Jumat, 30 Juli 2010

contoh askeb letsu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan. Kesejahteraan masyarakat, dan merupakan alat untuk menilai efektifitas dari program percepatan penurunan AKI. Keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi masih menjadi persoalan sangat rumit di Indonesia. Angka kematian ibu dan bayi belum menunjukkan gejala yang memuaskan. Di samping itu negeri ini masih kekurangan tenaga kesehatan, terutama di plosok desa. Apalagi biaya kesehatan boleh dibilang mahal, sehingga warga kurang mampu memanfaatkan tenaga ahli kesehatan, mereka lebih memilih dukun beranak dalam persalinan karena biayanya lebih terjangkau. (www.kesehatanibudanbayi.co.id)
Kematian saat melahirkan biasanya menjadi penunjang utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktifitasnya. WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahun lebih dari 585.000 ibu meninggal pada saat hamil dan bersalin. Artinya setiap menit ada satu perempuan meninggal. (www.kompas.co.id)
Siaran pers dari kantor perwakilan WHO Jakarta menyebutkan bahwa angka kematian ibu di kawasan Asia Tenggara menyumbang hampir sepertiga jumlah kematian ibu dan bayi secara global. WHO memperkirakan sebanyak 37 juta kelahiran terjadi di kawasan Asia Tenggara setiap tahun, sementara total kematian ibu dan bayi baru lahir dikawasan ini diperkirakan berturut-turut 170.000 dan 1,3 juga pertahun. Kematian ibu tersebut sebagian besar disebabkan oleh perdarahan, infeksi, eklampsi, persalinan macet, dan lain-lain.
Dalam aturan Internasional perbandingan kematian bayi lahir sungsang dengan jalan lahir normal adalah 3:1 tiga meninggal, satu selamat. (www.compas.co.id) kejadian kehamilan sungsang ditemukan kira-kira 2 – 4%. Greenhill melaporkan 4 – 4,5%. Holland 2 – 3%. (Winkjosastro, 2005:609)
Menurut Dr. Siti Fadilah Supari, SP.J (PK) selaku Menteri Kesehatan pada saat acara konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (Kansas, PKM-RT) di Jakarta menuturkan: bahwa pada saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup. (www.dinkesjatim.go.id)
Adapun penyebab kematian ibu di Indonesia diantaranya karena penyebab langsung dan tidak langsung, sebagai penyebab langsung adalah perdarahan (42,2%), eklampsi (12,9%), abortus (11%), infeksi pasca persalinan (9,6%), partus macet (6,5%), anemia (1,6%). Penyebab tidak langsung adalah kehamilan resti (14,1%) dan kehamilan sungsang (2%). Sedangkan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup. (www.kompas.co.id)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Faculty of Medical Airlangga University didapat data bahwa dalam 100 wanita hamil 4 – 5 diantaranya adalah kehamilan sungsang. Tipe-tipe letak sungsang yaitu Frank Breech (50 – 70%) yaitu kedua tungkai fleksi, Complete Breech (5 – 10%) yaitu tungkai atas lurus ke atas tungkai bawah ekstensi, footing (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki. (www.obstetri&ginekologi.co.id)
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2008 mencapai 68 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung AKI tersebut seperti perdarahan, eklamsi, infeksi (Trias klasik), serta adanya penyebab jalan lain seperti partus kasep, dan kelainan letak. (www.jawapos.co.id)
Kejadian kehamilan sungsang di Jawa Timur sekitar 4,4% dengan tipe hampir 50% adalah letak bokong murni, sebagian kecil tipe bokong kaki sempurna (10-15%). (www.dinkesjatim.co.id)
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi tahun 2002 ada 15 ibu meninggal dalam persalinan dankehamilan dan tahun 2006 tinggal 9 kematian ibu. Menurut Farida, SpOG penyebab kematian ibu bersalin saat ini umumnya kasus berat seperti perdarahan, eklamsi, infeksi, persalinan kelainan letak. Angka kejadian kehamilan sungsang berkisar 4,5%. (www.dinkesngawi.co.id)
Menurut catatan medik di BPS Ny. Fitria Agustina Ngawi pada tahun 2008 dan Januari – Maret 2009 tidak ada kejadian kematian ibu dan bayi. Pada tahun 2008 jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan adalah 68 orang dan ibu hamil dengan letak sungsang 2 orang (2,9%). Pada bulan Januari – Maret 2009 jumlah ibu hamil yang memeriksakan kehamilan 19 orang dan ibu hamil dengan letak sungsang 1 orang. (5,2%).
Banyak faktor yang dapat menyebabkan kelainan letak presentasi bokong diantaranya prematuritas. Overdistensi uterus (kehamilan ganda, polyhidramnion), obstruksi pelvis (plasenta previa, myoma), paritas dan bentuk panggul. Angka kejadian sungsang jika dihubungkan dengan paritas ibu maka kejadian terbanyak adalah pada ibu multigravida dibandingkan primigravida. Sedangkan jika dihubungkan dengan panggul ibu maka angka kejadian presentasi bokong terbanyak pada panggul sempit, dikarenakan fiksasi kepala janin yang tidakbaik pada pintu atas panggul (PAP). Dalam persalinan prematur kemungkinan bayi berada dalam posisi sungsang lebih besar. Pada umur kehamilan 28 minggu kemungkinan bayi berada dalam posisi sungsang adalah 25%, angka tersebut akan turun seiring dengan umur kehamilan mendekati 40 minggu. (www.obstetri&ginekologi.go.id)
Kematian perinatal yang secara langsung disebabkan karena persalinan presentasi bokong sebesar 4 – 5 x dibanding presentasi kepala. Sebab kematian perinatal pada persalinan presentasi bokong yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan yang kurang sempurna, dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak. Sedangkan untuk kematian ibu dan bayi yang disebabkan persalinan sungsang sekitar 20% sampai 30%. (www.obstetri&ginekologi.go.id)
Dalam upaya menekan AKI pemerintah mencanangkan setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu bidan. Dukun yang secara tradisi menolong persalinan diarahkan menjadi pembantu bidan untuk mengurus ibu dan bayi pasca persalinan normal. (www.kompas.co.id)
Dalam hal ini bidan merupakan ujung tombak dalam memberikan pelayanan pada masyarakat terutama dalam bidang KIA-KB. Keberadaan bidan merupakan solusi untuk permasalahan kesehatan di tingkat bawah karena bidan tidak hanya membantu masyarakat yang sakit tetapi juga bidang KIA-KB.
Mengetahui lebih awal adanya komplikasi kehamilan dapat mencegah terjadinya resiko persalinan patologi dan pada akhirnya akan menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu serta mengurangi resiko infeksi pada bayi. (www.kesehatan ibu dan bayi.go.id)
Berdasarkan data yang diperoleh di atas maka penulis mengambil karya tulis dengan judul: “Asuhan Kebidanan Pada Ny. “H” G¬IP¬00000 Usia Kehamilan 26 – 28 minggu dengan Kelainan Letak Sungsang di BPS Ny. Fitria Agustina, Amd.Keb. Pitu – Ngawi”

1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan pada latar belakang tersebut maka penulis dapat merumuskan masalah yaitu “Bagaimana melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “H” GIP00000 usia kehamilan 26 – 28 minggu dengan kelainan letak sungsang?”

1.3. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan yang ingin kami capai dari penyusunan karya tulis ini yaitu :
1.3.1. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran nyata tentang teori dan praktek dilapangan untuk menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada kehamilan dengan kelainan letak sungsang yang komprehensif dengan menggunakan manajemen kebidanan Hellen Varney.
1.3.2. Tujuan Khusus
Dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “H” GIP00000 usia kehamilan 26-28 minggu dengan kelainan letak sungsang, diharapkan penulis mampu menerapkan dan melaksanakan 7 langkah Hellen Varney, diantaranya yaitu :
1. Melakukan pengkajian data
2. Mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan
3. Mengantisipasi masalah potensial
4. Mengidentifikasi kebutuhan segera
5. Merumuskan suatu rencana asuhan yang komprehensif
6. Melaksanakan asuhan sesuai rencana / implementasi
7. Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan

1.4. MANFAAT PENULISAN
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny “H” GIP00000 usia kehamilan 26-28 minggu dengan kelainan letak sungsang, diharapkan penyusunan karya tulis ini dapat memberikan manfaat antara lain :
1.4.1. Manfaat Teoritis
Mahasiswa dapat membandingkan ilmu yang diperoleh selama dibangku kuliah serta mendapatkan pengalaman sehingga mampu menerapkan asuhan kebidanan secara teoritis pada usia kehamilan 26-28 minggu dengan kelainan letak sungsang.
1.4.2. Manfaat Praktis
1) Bagi Lahan Praktek
Sebagai tambahan pengetahuan, informasi, masukan bagi tenaga kesehatan dalam usaha meningkatkan kualitas pelayanan asuhan kebidanan pada ibu hamil primigravida dengan dengan kelainan letak sungsang sesuai dengan manajemen kebidanan.
2) Bagi Institusi
Sebagai tambahan bahan kepustakaan dan perbandingan pada penanganan kasus kehamilan dengan kelainan letak sungsang.
3) Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah serta mendapatkan pengalaman dalam melaksanakan asuhan kebidanan secara langsung kepada ibu hamil primigravida trimester II dengan kelainan letak sungsang.
4) Bagi Pasien
Agar pasien mengetahui dan memahami keadaan kesehatan dan kehamilannya sehingga timbul kesadaran klien untuk memperhatikan kehamilannya dengan melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur.

1.5. METODE TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1.5.1. Metode Penulisan
Karya tulis ini disusun oleh penulis setelah melakukan penelitian secara deskriptif dalam bentuk studi kasus yang dibuat berdasarkan keadaan situasi yang nyata dengan tujuan pemecahan masalah (Nursalam, 2001).
1.5.2. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1) Wawancara
Yaitu langkah pertama, untuk menyusun data dasar adalah dengan mewawancarai klien. Wawancara adalah pola komunikasi yang dilakukan untuk tujuan spesifik, dan difokuskan pada area dengan isi yang spesifik. (Potter, 2005)
2) Observasi
Yaitu mengamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. (Nursalam, 2001)
3) Pemeriksaan Fisik
Yaitu pemeriksaan atau pengkajian fisik dalam keperawatan dipergunakan untuk memperoleh data obyektif dari riwayat keperawatan klien. (Nursalam, 2001)
4) Studi Kepustakaan
Yaitu dengan memperlajari buku-buku dan makalah yang ada hubungannya dengan asuhan kehamilan dan masalah yang ditemukan. (Nursalam, 2001)
5) Pemeriksaan Penunjang
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa, seperti pemeriksaan laboratorium. (Nursalam, 2001)
6) Dokumentasi
Yaitu rencana tindakan keperawatan suatu proses informasi, penrimaan, pengiriman, dan evaluasi pusat rencana yang dilaksanakan oleh seorang perawat profesional. (Nursalam, 2001).

1.6. WAKTU DAN TEMPAT
Pengkajian asuhan kebidanan diperoleh pada saat praktek di lapangan yaitu di BPS Ny. Fitria Agustina Amd.Keb di Desa Pitu, Ngawi pada tanggal 5 April 2009 Jam 17.00 WIB.

1.7. SISTEMATIKA PENULISAN
Karya tulis ini disusun secara sistematis menjadi lima bab dengan susunan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan teknik pengumpulan data, tempat dan waktu, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka berisi tentang konsep dasar kehamilan yaitu pengertian kehamilan, proses kehamilan, diagnosis kehamilan, diagnosa banding kehamilan, perubahan fisiologis wanita hamil, perubahan psikologis, tuanya kehamilan, perbedaan antara primigravida dan multigravida, ketidaknyamanan pada ibu hamil, tanda bahaya pada ibu hamil. Konsep dasar ANC meliputi : definisi, tujuan asuhan antenatal, kebijakan program, jadwal kunjungan ulang, pelayanan / asuhan stadar minimal termasuk “T 7”, pemberian vitamin zat besi, imunisasi TT, teknik pemeriksaan palpasi kehamilan, pemeriksaan denyut jantung janin / auskultasi, taksiran berat janin, nasihat-nasihat ibu hamil. Konsep dasar kehamilan sungsang meliputi definisi, etiologi, klasifikasi, diagnosa, dan prognosa. Konsep dasar asuhan kebidanan terdiri dari definisi, pengkajian, identifikasi diagnosa masalah, antisipasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB III TINJAUAN KASUS
Menguraikan tentang asuhan kebidanan menurut langkah manajemen Varney yang meliputi, pengkajian, identifikasi diagnosa masalah, antisipasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB IV PEMBAHASAN
Pembahasan berisi tentang kesenjangan dan kesamaan yang terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus yang ada selama melaksanakan asuhan kebidanan pada kehamilan dengan kelainan letak sungsang
BAB V PENUTUP
Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KONSEP DASAR KEHAMILAN FISIOLOGI
2.1.1. Definisi
Kehamilan adalah persatuan antara sebuah telur dan sebuah sperma yang bukan merupakan peristiwa yang terpisah tetapi ada suatu rangkaian kejadian yang mengelilinginya. Kejadian-kejadian itu adalah pembentukan gamet (telur dan sperma); ovulasi (pelepasan telur); penggabungan gamet dan implantasi embrio di dalam uterus. (Bobak Lawdermik, 2005:74)
Kehamilan adalah masa dimulai dari hasil konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu/ 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir. (Abdul Bari, 2006:89)
Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan bila lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. (Mansjoer, 2001:253)
2.1.2. Proses Kehamilan
1) Sperma dan Ovum
Tiap spermatozoon terdiri atas tiga bagian yaitu kaput, atau kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nukleus, ekor, dan bagian yang silindrik menghubungkan kepala dengan ekor. Dengan getaran ekornya spermatozoon dapat bergerak cepat.
Dalam pertumbuhan embrional spermatogonium berasal dari sel-sel primitif tubulus-tubulus testis. Setelah janin dilahirkan, jumlah spermatogonium yang ada tidak mengalami perubahan hingga masa pubertas tiba. Pada masa pubertas sel-sel spermatogonium tersebut di bawah pengaruh sel-sel interstisial Leydig mulai aktif mengadakan mitosis, dan terjadilah spermatogenesis yang amat kompleks itu. (Wiknjosastro, 2005:55)
Gambar 2.1.
Spermatogenesis










Sumber : (Wiknjosastro, 2005:56)
Tiap spermatogonium membelah dua dan menghasilkan spermatosit pertama. Spermatosit pertama ini membelah dua dan menjadi dua spermatosit kedua; spermatosit kedua membelah dua lagi tetapi dengan hasil bahwa dua spermatid masing-masing memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah yang khas untuk jenis itu. Dari spermatid ini kemudian tumbuh spermatozoon.
Pertumbuhan embrional oogonium yang kelak menjadi ovum terjadi di genital ridge, dan di dalam kandungan jumlah ooginum bertambah terus sampai pada kehamilan enam bulan. Pada waktu dilahirkan, bayi mempunyai sekurang-kurangnya 750.000 oogonium. Jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel-folikel. Pada umur 6 – 15 tahun ditemukan 439.000, pada 16 – 25 tahun hanya 34.000. Pada masa menopause semua menghilang.
Sebelum janin dilahirkan, sebagian besar oogonium mengalami perubahan-perubahan pada nukleusnya. Terjadi pula migrasi dari oogonium-oogonium ke arah korteks ovarii, hingga pada waktu dilahirkan korteks ovarii terisi dengan primordial ovarian follicles. Padanya dapat dilihat bahwa kromosomnya telah perpasangan, DNA-nya berduplikasi, yang berarti bahwa sel menjadi tetraploid. Pertumbuhan selanjutnya terhenti, oleh sebab yang belum diketahui sampai folikel itu terangsang dan berkembang lagi ke arah kematangan. Sel yang terhenti dalam profase meiosis dinamakan oosit pertama. Oleh rangsangan FSH meiosis (pembelahan ke arah pematangan terjadi terus, benda kutub (polar body) pertama disisihkan dengan hanya sedikit sitoplasma, sedangkan oosit kedua ini berada di dalam sitoplasma yang cukup banyak.
Proses pembelahan ini terjadi sebelum ovulasi. Proses ini disebut pematangan pertama ovum; pematangan kedua ovum terjadi pada waktu spermatozoon membuahi ovum.
Gambar 2.2.
Oogenesis











Sumber : (Wiknjosastro, 2005:57)
2) Fertilisasi
Jutaan spermatozoon dikeluarkan di forniks vagina dan di sekitar porsio pada waktu koitus. Hanya beberapa ratus ribu spermatozoon dapat meneruskan ke kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus dapat sampai ke bagian ampulla tuba dimana spermatozoon dapat memasuki ovum yang telah siap untuk dibuahi. Hanya satu spermatozoon, yang mempunyai kemampuan (capacitation) untuk membuahi. Pada spermatozoon itu ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus oleh karena diduga dapat melepaskan hialuronidase.
Ovum yang dilepas oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-mikrofilamen fimbria infundibulum ke arah ostium tuba abdominale, dan disalurkan terus ke arah medial. Ovum sesudah dilepas oleh ovarium mempunyai diameter 100µ (0,1 mm)
Di tengah-tengahnya dijumpai nukleus yang berada dalam metafase pada pembelahan pematangan kedua, terapung-apung dalam sitoplasma yang kekuning-kuningan yakni vitellus ini mengandung banyak zat hidrat arang dan asam amino.
Ovum dilingkari oleh zona pellusida. Di luar zona pellusida ini ditemukan sel-sel korona radiata, dan di dalamnya terdapat ruang perivitellina, tempat benda-benda kutub. Bahan-bahan dari sel-sel korona radiata dapat disalurkan ke ovum melalui saluran-saluran halus di zona pellusida. Jumlah sel-sela koron radiata di dalam perjalanan ovum di ampulla tuba makin berkurang, hingga ovum hanya dilingkari oleh zona pellusida pada waktu berada dekat pada perbatasan ampulla dan ismus tuba, tempat pembuahan umumnya terjadi. Hanya satu spermatozoon yang telah mengalami proses kapasitasi, dapat melintasi zona pellusida masuk ke vitelllus. Sesudah itu zona pellusida segera mengalami perubahan dan mempunyai sifat tidak dapat dilintasi lagi oleh spermatozoon lain. Spermatozoon yang telah masuk ke vitellus kehilangan membran nukleusnya; yang tinggal hanya pronukleusnya. Masuknya spermatozoon ke dalam vitellus membangkitkan nukleus ovum yang masih dalam metafase untuk pembelahan-pembelahannya. Sesudah nafase kemudian timbul telofase, dan benda kutub (polar body) kedua menuju ke ruang perivitellina. Ovum sekarang hanya mempunyai pronukleus yang haploid. Pronukleus spermatozoon telah mengandung juga jumlah kromoson yang heploid. (Wiknjosastro, 2005:57-58)
3) Nidasi/ implantasi
Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok sel-sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi berada dalam stadium morula. Energi untuk pembelahan ini diperoleh dari vitellus, hingga volume vitellus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. Dengan demikian, zona pellusida tetap utuh, atau dengan perkataan lain, besarnya hasil konsepsi tetap sama. Dalam ukuran yang sama ini hasil konsepsi disalurkan terus ke pars ismika dan pars interstisialis tuba (bagian-bagian tuba yang sempit) dan terus ke arah kavum uterus oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Dalam kavum uterus hasil konsep mencapai stadium blastula.
Pada stadium blastula ini sel-sel yang lebih kecil yang membentuk dinding blastula, akan terjadi trofoblas. Dengan demikian, blastula diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofoblas. Trofoblas yang mempunyai kemampuan-kemampuan menghancurkan dan mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi, dengan sel-sel desidua. Sel-sel desidua ini besar-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. Blastula dengan bagian yang mengandung inner-cell mass aktif sudah masuk ke dalam lapisan desidua, dan luka pada desidua kemudian menutup kembali. Kadang-kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovum ke dalam endomtrium terjadi perdarahan pada luka desidua (tanda Hartman).
Umumnya nidasi terjadi di dinding depan atau belakang uterus, dekat pada fundus uteri. Jika nidasi ini terjadi, barulah dapat disebut adanya kehamilan.
4) Plasentasi
Lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arah kavum uteri disebut desidua kapsularis; yang terletak antara hasil konsepsi dan dinging uterus disebut desidua basalis; disitu plasenta akan dibentuk. Desidua yang meliputi dinding uterus yang lain adalah desidua parientalis. Hasil konsepsi sendiri diselubungi oleh jonjot-jonjot yang dinamakan villi koriales dan berpangkal pada korion.
Bila nidasi telah terjadi, mulailah diferensiasi sel-sel blastula. Sel-sel yang lebih kecil, yang dekat pada ruang eksoselom, membentuk entoderm dan yolk sac, sedangkan sel-sel yang lebih besar menjadi ektroderm dan membentuk ruang amnion. Dengan ini di dalam blastula terdapat suatu embryonal plate yang dibentuk antara dua ruangan, yakni ruang amnion dan yolk sac.
Sel-sel fibrolas mesodermal tumbuh di sekitar embrio dan melapisi pula sebeblah dalam trofoblas. Dengan demikian, terbentuk chorionic membrane yang kelak menjadi korion. Trofoblas yang amat hiperplastik itu tumbuh tidak sama tebalnya dan dalam 2 lapisan. Di sebelah dalam dibentuk lapisan sitotrofoblas (terdiri atas sel-sel yang monokleus) dan di sebelah luar lapisan sinsisiotrofoblast, terdiri atas nukleus-nukleus, tersebar tak rata dalam sitoplas.
Dalam tingkat nidasi trifoblas antara lain menghasilkan hormon human chorionic gonadotropin. Produksi human chorionic gonadotropin meningkat sampai kurang lebih hari ke 60 kehamilan untuk kemudian turun lagi. Diduga bahwa fungsinya ialah mempengaruhi korpus luteum untuk tumbuh terus, dan menghasilkan terus progesteron, sampai plasenta dapat membuat cukup progesteron sendiri. Hormon korionik gonadotropin inilah yang khas untuk menentukan ada tidaknya kehamilan. Hormon tersebut dapat ditemukan di dalam air kencing wanita yang menjadi hamil.
Gambar 2.3.
Urutan Ovulasi, Fertilisasi dan Implantasi










Sumber : (Bobak Lawdermik, 2005:76)

2.1.3. Diagnosis Kehamilan
Untuk dapat menegakkan kehamilan ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan.
1) Gejala Kehamilan Tidak Pasti
a) Amenorhoe (tidak dapat haid).
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.
b) Nausea (enek) dan emesis (muntah)
Enek terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadang0kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas-batas tertentu keadaan in imasih fisiologik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum.
c) Mengidam (mengingini makanan atau minuman tertentu). Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan
d) Pingsan
Sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat ramai pada bulan-bulan pertama kehamilan. Hilang sesudah kehamilan 16 minggu.
e) Mammae menjadi tegang dan membesar
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mammae. Glandula montgomery tampak lebih jelas.
f) Anaroksia (tidak ada nafsu makan)
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk “dua orang”, sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
g) Sering kencing
Terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari ronggal panggul. Pada akhir triwulan gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kembali kandung kencing.
h) Obstipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon steroid.
i) Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung dan dahi kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Areola mammae juga menjadi lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher menjadi lebih hitam. Demikian pula linea alba di garis tengah abdomen menjadi lebih hitam (= linea griesa). Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh dari hormon kortiko-steroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
j) Epulis
Adalah suatu hipertrofi papilla ginggivae. Sering terjadi pada triwulan pertama.
k) Varices
Sering dijumpai pada triwulan terakhir. Didapat pada daerah genitalia eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul kembali pada triwulan pertama. Kadang-kadang timbulnya varises merupakan gejala pertama kehamilan muda.
(Wiknjosastro, 2005:125-126)
2) Tanda Mungkin Kehamilan
a) Tanda Hegar: segmen bawah uterus lembek pada perabaan.
b) Tanda Chadwick: vagina livid, terjadi kira-kira minggu ke-6.
c) Tanda Piscaseck: uterus membesar kesalah satu jurusan.
d) Kontraksi Braxton Hicks: uterus berkontraksi bila dirangsang. Tanda ini khas untuk uterus pada masa kehamilan.
e) Suhu basal yang sesudah ovulasi tetap tinggi terus antara 37,2 oC sampai 37,8 oC adalah salah satu tanda akan adanya kehamilan. Gejala ini sering dipakai dalam pemeriksaan dalam.
f) Cara khas yang dipakai untuk menentukan adanya human chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pagi hari. Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu diagnosis kehamilan sedini-dininya. (Wiknjosastro, 2005:126-127)
3) Tanda Pasti Hamil
Tanda pasti kehamilan dapat ditentukan dengan jalan :
a) Pada palasi dirasakan bagian janin dan ballotement serta gerakan janin
b) Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin (BJJ). Dengan stetoskop Laennec BJJ baru terdengar pada kehamilan 18-20 minggu. Dengan alat doppler pada kehamilan 12 minggu.
c) Dengan ultrosonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambaran janin.
d) Pada pemeriksaan sinar X tampak kerangka janin.
(Mansjoer, 2001:254)
2.1.4. Diagnosis Banding Kehamilan
1. Pseudosiesis
Terdapat amenorea, perut membesar, tetapi tanda-tanda kehamilan lain dan reaksi kehamilan negatif. Uterus sebesar biasa. Wanita tersebut mengaku dirinya hamil, tetapi sebenarnya tidak hamil. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang ingin sekali hamil.
2. Kistoma ovarii
Mungkin ada amenorhe, perut penderita makin besar, tetapi uterusnya sebesar biasa.
3. Mioma uteri
Dapat terjadi amenorhe, perut penderita makin besar, uterusnya makin besar, kadang-kadang tidak merata. Akan tetapi tanda-tanda kehamilan seperti Braxton-Hicks dan reaksi kehamilan negatif.
4. Visika urinaria dengan retensio urinae
Uterus sendiri biasa besarnya, tanda-tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.
5. Menopause
Terdapat amenorhe. Umur wanita kira-kira di atas 43 tahun. Uterus sendiri sebesar biasa, tanda-tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.
Tabel 2.1.
Perbandingan antara primipara dan multipara
Primigravida Multigravida
Buah dada

Papilla mamae

Strie gravidarum
Vulva

Vagina

Hymen

Perineum

Ostium uteri eksterna Tegang

Runcing

Livide
Menutup

Sempit, rugae (+)

imperforatus

Utuh

bulat Lembek, menggantung
Tumpul

Albicane
Menganga

Longgar, licin

Caruncula himenalis? Miratiformis
Jaringan perut

Berbentuk garis
Sumber : (Saminem, 2009:7)
2.1.5. Perubahan Anatomi dan Fisiologik Pada Wanita Hamil
Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada alat genetalia eksterna dan interna dan payudara (mammae). Dalam hal ini hormone somatomammotropin, esterogen dan progesterone mempunyai peranan penting. Perubahan yang terjadi pada wanita hamil ialah antara lain sebagai berikut :
1. Uterus
a. Ukuran
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesterone yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus. Serabut kolagen menjadi higroskopik akibat meningkatnya estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Ukuran pada kehamilan cukup bulan dengan panjang kurang lebih 20 cm dan tebal dinding kurang leibh 2,5 cm.
b. Berat
Berat uterus secara luar biasa dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 minggu).
c. Bentuk dan konsistensi
Pada bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah apukat. Pada akhir kehamilan seperti bentuk telur. Uterus pada wanita tidak hamil sebesar telur ayam. Pada masa kehamilan uterus tumbuh secara teratur, kecuali jika ada gangguan pada kehamilan tersebut. Pada kehamilan 8 minggu uterus sebesar telur bebek, pada kehamilan 12 minggu sebesar telur angsa. Pada triwulan pertama terjadi hipertrofi sehingga istmus menjadi lebih panjang dan lunak, hal ini disebut tanda Hegar.
(Hanifa Wiknjosastro, 2005:89)

Gambar 2.4.
Perkembangan Uterus Pada Beberapa Tingkat Kehamilan













(Bobak Lawdermik, 2005:109)
2. Serviks
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan adanya hipervas-kularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak.
3. Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva akibat hormon esterogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut tanda chadwick. Warna portio pun tampak livide.
Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut meningkat. Apabila terjadi kecelakaan pada kehamilan atau persalinan, maka perdarahan akan banyak sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian. (Winkjosastro, 2005:95)
4. Ovarium
Pada saat permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta pada usia kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm, kemudian korpus luteum mengecil setelah plasenta terbentuk.
(Hanifa Wiknjosastro, 2005:95)
5. Kulit
Pada kulit terlihat hyperpigmentasi ialah adanya kelebihan pigmen, pada tempat-tempat tertentu, antara lain :
a. Pada muka : hyperpigmentasi pada daerah pipi dan hidung sehingga menyerupai topeng, oleh karena itu disebut juga topeng kehamilan atau cloasma gravidarum
b. Pada areolla mammae dan puting susu :
Areolla mammae warnanya kan lebih hitam. Sekitarnya yang biasanya tidak berwarna, sekarang berwarna hitam pula, hal ini disebut sekunder areolla mammae. Puting susu juga menghitam dan membesar serta lebih menonjol.
c. Pada abdomen : terdapat garis pigmentasi yang terbentang ke atas sympisis sampai pusat, disebut linea alba. Timbul garis baru yang terbentang ditengah-tengah atas pusat disebut linea nigra. Ada pula hyper-pigmentasi yang merupakan garis-garis pada kulit yang disebut striae gravidaru. Striae gravidaru ada dua macam yaitu striae livide garis pada kulit berwarna biru, striae albican yaitu garis yang biru tadi menjadi putih. Hal tersebut disebabkan pengaruh Melonophore Stimulating Hormone Lobus Hipofisis Anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis.
(Bobak Lawdermik, 2005:117)
6. Payudara
Rasa penuh, peningkatan sensitivitas, rasa geli, dan rasa berat di payudara mulai timbul sejak minggu ke enam gestasi. Puting susu dan areolla menjadi lebih berpigmen terbentuk warna merah muda skunder pada areolla dan puting susu menjadi lebih erektil. Hipertropik kelenjar sebasea (lemak) yang muncul di areolla primer. Kelenjar sebasea ini mempunyai peran protektif sebagai pelumas puting susu. Selama trimester ke II dan ke III ukuran payudara meningkat secara progresif kadar hormon lutea dan plasenta pada waktu hamil meningkatkan proliferasi duktus laktiferus dan jaringan lobulus-alveolar sehingga pada palpasi payudara teraba penyebaran modul kasar. Walaupun perkembangan kelenjar mammae secara fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil tetapi laktasi terhambat sampai kadar estrogen menurun yakni setelah janin dan plasenta lahir. Namun sekresi prakolostrum yang cair, jernih dan kental dapat dikeluarkan pada puting susu pada minggu ke enam. Sekresi yang mengental ini disebut kolostrum.
(Bobak Lawdermik, 2005:111-112)
7. Perubahan pada Sirkulasi Darah
Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum adalah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah (hemodilusi) dengan puncaknya pada umur kehamilan 32 minggu, serum darah (volume darah) bertambah besar 25% sampai 30% sedangkan sel darah bertambah sebesar sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30% bertambahnya hemodilusi darah mulai jelas timbul sekitar umur 16 minggu. (Hanifa Wiknjosastro, 2005:96)
8. Sistem Respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak nafas dan pendek nafas. Hal ini dikemukanan pada umur kehamilan 32 minggu keatas karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma, sehingga pada diafragma kurang leluasa untuk bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20% seorang wanita hamil selalu bernafas lebih dalam.
(Hanifa Wiknjosastro, 2005:96)
9. Traktus Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea). Hal ini dikarenakan kadar hormon estrogen meningkat. Tonus otot traktus digestivus menurun sehingga mortalitas seluruh traktus digestinus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di lambung hal ini mungkin baik untuk reabsorpsi akan tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang memang merupakan keluhan wanita hamil. (Hanifa Wiknjosastro, 2005:97).
10. Traktus Urinarius
Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing yang tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.
(Hanifa Wiknjosastro, 2005:97)
11. Sistem Endokrin
a. Kelenjar tiroid
Selama masa hamil pembesaran moderat kelenjar tiroid merupakan akibat hiperplasia glandular dan peningkatan vaskularitas. Konsumsi oksigen dan peningkatan BMR (Basal Metabolic Rate) merupakan akibat produksi hormon tiroid.
b. Kelenjar paratiroid
Kehamilan menginduksi hiperparatiroidisme sekunder ringan, suatu refleksi peningkatan kebutuhan kalsium dan vitamin D. Saat kebutuhan untuk pertumbuhan rangka janin mencapai puncak (pertengahan kedua kehamilan), kadar parathormon plasma meningkat, kadar puncak terjadi antara minggu ke-15 dan ke-35 gestasi.
(Bobak Lawdermik, 2005:121)
12. Postur Tubuh
Perubahan tubuh secara bertahap dan peningkatan berat wanita hamil menyebakan postur dan cara berjalan wanita berubah secara menyolok. Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot perut, dan peningkatan beban berat badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian-ulang (realigment) kurvatura spinalis. Pusat gravitasi wanita bergeser ke depan. Kurva lumbosakrum normal harus semakin melengkung dan di daerah servikodorsal harus terbentuk kurvatura (fleksi anterior kepala berlebihan) untuk mempertahankan keseimbangan.
(Bobak Lawdermik, 2005 : 118)

2.1.6. Perubahan Psikologis pada Wanita Hamil
1) Trimester I
a) Ibu merasa tidak sehat dan benci kehamilannya.
b) Banyak ibu merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan.
c) Ibu mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya sedang hamil.
d) Selalu memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
e) Kehamilan masih dirahasiakan.
f) Wanita alami gairah seks yg lebih tinggi, tapi libido turun.
1. Periode penyesuain terhadap kenyataan bahwa ia hamil.
2. Sebagian besar wanita bersikap ambivalen tentang kehamilannya.
3. Waktu penungguan kehamilan yang mencemaskan agar menjadi kenyataan.
4. Bukti terpenting yaitu berhentinya menstruasi.
5. Perubahan pola seksual.
2) Trimester II
a) Ibu sudah merasa sehat.
b) Ibu sudah bisa menerima kehamilannya.
c) Ibu dapat merasakan gerakan bayinya.
d) Libido meningkat.
1. Periode Kesehatan.
2. Fase Batiniah Kehamilan.
3. Wanita akan siap untuk menjadi ibu dan akan berusaha menjadi ibu yang baik.
4. Perubahan selama kehamilan benar-benar ada dalam pikiran wanita tersebut.
5. Bagi multipara, ia akan mengalami pemisahan dari hubungannya yang telah ada dengan anak-anaknya.
6. Kepuasan seks nya meningkat.
3) Trimester III
a) Ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.
b) Ibu khawatir bayinya akan lahir sewaktu-waktu dan dalam kondisi bayi yang tidak normal.
c) Rasa tidak nyaman kembali terjadi, merasa dirinya aneh dan jelek.
d) Ibu mulai sedih karena akan berpisah dengan bayinya.
e) Persiapan aktif untuk kelahiran bayinya.
f) Menduga jenis kelamin dan mempersiapkan nama.
1. Periode penunggu.
2. Wanita merasa gelisah karena kemungkinannya bayinya akan datang.
3. Ukuran uterus membesar dan adanya pergerakan janin.
4. Wanita tersebut akan melindungi bayinya akan bahaya.
5. Menyiapkan pilihan nama dan perawatan bagi bayinya
6. Akan mengalami kekuatan-kekuatan dengan dirinya dan bayinya
7. Mengalami ketidaknyamanan fisik
(http://www.aqilaputri.rachdian.com/index2.2007)
2.1.7. Tumbuh Kembang Janin
Tabel : 2.2.
Ciri-ciri Tua Fetus

Tua kehamilan (dalam minggu sesudah HPHT) Panjang fetus (dari puncak kepala ke ujung sakrum) Ciri-ciri
Organogenesis
8 minggu

12 minggu



Masa fetal
16 minggu

20 minggu

24 minggu

Masa perinatal
28 minggu
2,5 cm

9 cm




16 – 18 cm

25 cm

30 – 32 cm


35 cm
Hidung, kuping, jari-jari mulai dibentuk.
Kepala membungkuk ke dada.
Daun telinga lebih jelas, kelopak-kelopak mata masih melekat, leher mulai dibentuk, alat genetalia eksterna terbentuk, belum berdiferensiasi

Genetalia eksterna terbentuk dan dapat dikenal, kulit merah tipis sekali.
Kulit lebih tebal, opak dengan rambut halus (lanugo).
Kelopak-kelopak mata terpisah, alis dan bulu mata ada, kulit keriput.

Berat 1000 gram

Sumber : (Wiknjosastro, 2005:64)
2.1.8. Pembagian Usia Kehamilan
Kehamilan dibagi menjadi tiga semester, yaitu :
Trimester pertama : 0 – 14 minggu
Trimester kedua : 14 – 28 minggu
Trimester ketiga : 28 – 42 minggu
(Mansjoer, 2001:253)
2.1.9. Umur Kahamilan
Menentukan umur kehamilan sangat penting untuk memperkirakan persalinan. Umur kehamilan dapat ditentukan dengan :
1) Mempergunakan rumus Neagle :
Dapat dihitung dari hasil pertama haid terakhir, tanggal ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun ditambah satu. (Mansjoer, 2001:253)
2) Gerakan pertama janin (Quickening)
Gerakan janin pada primi gravid dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Gerakan janin kadang-kadang pada kehamilan 20 minggu dapat diraba secara obyektif oleh pemeriksa.
3) Perkiraan tinggi fundus uteri
Menggunakan rumus Mc. Donald :


(Bobak Lawdermik, 2005:174)
4) Rumus Johnson – Tausak :
Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi Fundus Uteri (dalam cm) – N) x 155
N = 13 bila kepala belum melewati pintu atas panggul
N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika
(Mansjoer, Arif. 2001 : 256)
5) Penentuan umur hamil dengan ultrasonografi dimana diperhitungkan umur hamil dengan jarak biparietal, jarak tulang tibia dan panjang lingkaran abdomen janin.
(Winkjosastro, 2005:141)
2.1.10. Nasehat-nasehat Untuk Wanita Hamil
1. Perawatan Diri Terutama Personal Hygiene
Menjaga kesehatan merupakan aspek penting perawatan prenatal. Partisipasi pasien dalam hal ini menjamin adanya laporan dini tentang respons yang tidak diharapkan dalam kehamilan. Tanggung jawab pasien untuk menjaga kesehatannya terlihat dari pemahamannya tentang perubahan-perubahan maternal dalam menghadapi pertumbuhan anak yang belum lahir dan kesiapannya untuk belajar. (Bobak Lawdermik, 2005)
2. Pekerjaan
Aktivitas yang bergantung kepada keseimbangan yang baik harus dikurangi, terutama pada pertengahan kedua kehamilan. Pada umumnya, rasa letih berlebihan menjadi faktor penentu bagi ibu hamil untuk berhenti bekerja. Ibu hamil yang tidak banyak bekerja, harus berusaha untuk lebih sering berjalan disekitar tempat kerjanya dan upayakan untuk tidak duduk atau berdiri selama waktu yang lama. Aktivitas diperlukan untuk mengatasi rasa malas yang biasa muncul, sirkulasi dependent yang berpotensi menimbulkan varices dan tromboflebitis. (Bobak Lawdermik, 2005)
3. Bepergian
Apabila bepergian jauh, jadwalkan waktu untuk melakukan gerakan bebas dan beristirahat. Sambil duduk, ibu hamil dapat melakukan latihan nafas dalam, memutar-mutar kaki, dan secara bergantian mengencangkan dan melemaskan otot dibagian tubuh yang berlainan. Hindari keletihan. (Bobak Lawdermik, 2005)
4. Kesehatan Gigi
Perawatan gigi selama masa hamil merupakan hal yang sangat penting. Rasa mual selama masa hamil dapat mengakibatkan perburukan hygiene mulut dan caries gigi dapat timbul. Tidak ada perubahan fisiologis selama masa hamil, dan dapat menimbulkan caries gigi. Kalsium dan fosfor di dalam gigi menetap di email.
5. Obat-Obatan
Bahaya terbesar yang menyebabkan defek pada perkembangan janin akibat penggunaan obat-obatan, dapat muncul sejak fertilisasi sampai sepanjang trimester pertama. Upaya mengobati diri sendiri sebaiknya tidak dilakukan. Semua obat, termasuk aspirin, harus dibatasi dan setiap obat yang digunakan harus dicatat dengan teliti. (Bobak Lawdermik, 2005)
6. Alkohol, Asap Rokok, dan Substansi Lain
Ketergantungan alkohol pada ibu hamil dikaitkan dengan tingginya angka abortus spontan. Risiko abortus spontan berbanding lurus dengan dosis pemakaian alkohol. Merokok atau terus menerus menghirup asap rokok orang lain (walaupun ibu itu sendiri tidak merokok) dikaitkan dengan retardasi pertumbuhan janin dan peningkatan mortalitas dan morbiditas bayi dan perinatal. Merokok juga meningkatkan frekuensi persalinan prematur, ketuban pecah dini, abrupsio plasenta, plasenta previa, dan kematian janin. (Bobak Lawdermik, 2005)
7. Pakaian
Pakaian harus nyaman, bersih, longgar tanpa sabuk atau pita yang menekan di bagian perut atau pergelangan tangan.
BH harus disesuaikan dengan besarnya payudara agar dapat menyangga payudara dengan baik.
Jangan memakai sepatu bertumit tinggi, berujung lancip, atas licin, karena akan mengakibatkan stabilitas tubuh terganggu dan oedem kaki sering terjadi. (Bobak Lawdermik, 2005)
8. Mandi
Mandi diperlukan untuk kebersihan atau hygiene terutama perawatan kulit karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah.
9. Coitus
Kapan tidak boleh berhubungan seks :
a. Jika terjadi pendarahan, segera konsultasikan pada dokter dan jangan berhubungan seks. Pendarahan ini mungkin tidak serius tetapi dokter anda harus mempertimbangkan kemungkinan rusaknya plasenta atau keguguran.
b. Jika anda pernah mengalami keguguran sebelumnya, mintalah petunjuk dokter atau klinik pranatal anda. Anda mungkin diminta tidak melakukan hubungan seks selama bulan-bulan awal kehamilan.
c. Jika ketuban anda pecah, berarti ada risiko infeksi. Posisi-posisi hubungan seks selama kehamilan.
10. Nutrisi
Sebagai pengawasan, kecukupan gizi ibu hamil dan pertumbuhan kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badannya. Kenaikan berat badan rata-rata antara 6,5 sampai 16 kg (10-12 kg). Kenaikan berat badan yang berlebihan atau bila berat badan itu turun setelah kehamilan triwulan kedua, haruslah menjadi perhatian. (Bobak Lawdermik, 2005)
Tabel 2.3
Kebutuhan menu sehari sehat ibu hamil dan menyusui

Bahan Ibu hamil trimester II dan III Ibu menyusui
Gram URT Gram URT
Beras 400 2 gelas 500 2 ½ gelas
Lauk pauk 75 3 x kotak korek api tebal 75 3 x kotak korek api tebal
Daging, tempe 100 4 x kotak korek api tebal 125 5 x kotak korek api tebal
Sayuran 300 Padat 3 gelas atau daun 6 gelas 300 Padat 3 gelas/daun 6 gelas
Pepaya 200 8 x kotak korek api tebal 200 8 x korek api tebal
Susu 100 cc ½ gelas 100 cc ½ gelas
Sumber : (Saminem 2009 : 42)







Tabel : 2.4.
Rekomendasi Nutrisi Selama Hamil
Nutrisi
Kebutuhan Alasan Peningkatan Kebutuhan Sumber-Sumber Makanan
Kalori 2200 (trimester petama), 2500 (trimester kedua) Peningkatan kebutuhan energi untuk pertumbuhan janin dan produksi susu Karbohidrat, lemak, protein
Protein (g) 60 Sintesis produk konsepsi janin, cairan amnion, plasenta, pertumbuhan jaringan, maternal, uterus, payudara, sel-sel darah merah, protein plasma Daging, telur, keju, kacang-kacangan
Kalsium (mg) 1200 Pembentukan skelet janin dan bakal gigi, mempertahankan tulang ibu dan mineralisasi gigi Susu, keju, yogurt, ikan yang dimakan dengan tulangnya, sayur berwarna hijau tua, bayam, tahu
Fosfor (mg) 1200 Pembentukan skelet janin dan bakal gigi
Susu, keju, yogurt, padi-padian, daging, kacang polong
Besi (mg) 30 Peningkatan pembentukan Hb ibu dan penyimpanan besi di hati janin Hati, daging, sereal, sayur-sayuran berdaun hijau, kacang polong
Seng (mg) 15 Komponen berbagai sistem enzim, penting untuk malformasi konginetal Hati, kerang, daging, gandum, susu
Yodium (µg) 175 Peningkatan laju metabolic maternal Garam beryodium, makanan laut, susu, roti beragi
Magnesium (µg) 320 Untuk metabolisme energi + protein, pertumbuhan jaringan dan kerja otot Kacang-kacangan, kacang polong, coklat, daging
Selenium (mg) 65 Antioksida (memproduksi membran sel), komponen gigi Daging organ, makanan laut, kacang polong, padi-padian utuh
Vit A (RE) 800 Esensial untuk perkembangan sel dan pertumbuhan Sayuran berdaun hijau, buah-buahan warna kuning tua, lada, hati, margarin atau mentega
Vit D (mg) 10 Untuk absorbsi kalsium dan fosfor Susu, margarin, kuning telur, mentega, hati

Vit E (µg) 10 Antioksidan, mencegah hemolisis sel darah merah Minyak sayur, sayuran, hati, kacang kacang-an, padi-padian, keju, ikan
Vit C (mg) 70 Pembentukan jaringan dan peningkatan absobsi besi Jeruk, strawberry melon, brokoli, tomat, sayuran mentah hijau tua
Asam folat (µg) 400 Pembentukan sel darah merah, mencegah anemia megaloblastik Sayuran hijau, jeruk, brokoli, asparagus, hati
Tiamin/B1 (mg) 1,5 Metabolisme energy Daging, hati, padi-padian, kacang polong
Riboflavin (mg) 1,6 Metabolisme protein dan energi Susu, hati, sayuran kuning dan hijau tua
Piridoksin/B6 (mg) 2,2 Metabolisme protein Daging, hati, sayuran hijauan, padi-padian
B12 (µg) 2,2 Produksi asam nukleakat dan protein untuk pembentukan sel darah merah dan pencegahan anemia megaloblastik / makrositik Susu, telur, daging, hati, keju
Niasin (mg) 17 Metabolisme energy Daging, ikan, unggas, hati, kacang tanah
Sumber : ( Bobak, 2005:208-210
a) Mitos makanan
Banyak mitor seputar makanan yang selama masa kehamilan yang berkembang di masyarakat. Tapi yang namanya mitos tidak selamanya benar. Bila alasannya bisa diterima akal sehat, maka mitor tersebut boleh diteruskan, sebaliknya bila tidak jangan dilakukan. Mitos tersebut antara lain :
a. Ibu hamil tidak boleh makan nanas, pisang ambon dan durian.
Mengkonsumsi buah-buahan jenis nanas, pisang ambon dan durian tidak menimbulkan pengaruh buruk pada ibu hamil dan janinnya. Tentunya bila dikonsumsi pisang ambon dalam jumlah yang banyak menyebabkan peningkatan lendir pada vagina yang dapat mengganggu. Sementara konsumsi banyak durian akan menimbulkan panas lambung dan meningkatkan kadar kolesterol. Sedangkan konsumsi nanas akan merangsang asam lambung berproduksi lebih tinggi yang dapat mengganggu kesehatan lambung. (Dini Kasdu, 2004).
b. Ibu hamil dilarang makan belut.
Bila makan belum takut anak yang akan dilahirkan tidak bisa diam, seperti belut. Anggapan ini tentu keliru, padahal belum mempunyai gizi tinggi, semua ibu hamil boleh makan belut karena murah dan merupakan sumber protein tinggi. (Dini Kasdu, 2004)
c. Ibu hamil tidak diperbolehkan makan daging kambing karena membahayakan janin. Daging kambing mengandung kadar parin (lemak jenuh) tinggi yang mempengaruhi metabolisme asam urat, serta berbahaya bagi penderita kolesterol atau jantung. Tapi bila tidak punya riwayat penyakit tersebut, ibu hamil boleh saja mengkonsumsi daging kambing. Tentu saja dengan jumlah yang secukupnya. (Dini Kasdu, 2004)
d. Minum air es membuat janin besar
Minum air es tidak meningkatkan berat badan janin maupun ibunya. Hanya biasa ibu hamil akan minum air es yang disertai dengan sirup yang mempunyai kadar gula tinggi. Kandungan karbohidrat sederhana yang sering dikonsumsi inilah yang akan meningkatkan berat badan ibu dan janinnya. (Dini Kusdu, 2004)
e. Minum air kelapa mempercepat persalinan
Belum ada penelitian yang dapat membuktikan hal tersebut. (Dini Kasdu, 2004)
f. Minum rebusan kacang hijau dapat melebatkan rambut bayi.
Rambut bayi yang lebat tidak ada hubungannya dengan minum banyak rebusan kacang hijau yang dilakukan semasa kehamilan. Tetapi ditentukan oleh faktor genetik atau bakat. Namun demikian, minum rebusan kacang hijau sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin dan protein.
g. Minum air kelapa muda membuat halus kulit bayi.
Kehalusan kulit lebih ditentukan oleh faktor genetik orangtua. (Dini Kasdu, 2004)
11. Senam hamil
Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat dimanfaatkan untuk berfungsi secara optimal dalam menghadapi persalinan dengan tenang sehingga proses persalinan dapat berjalan dengan lancar dan mudah (normal). Senam hamil ditujukan bagi ibu hamil tanpa kelainan atau tidak terdapat penyakit yang menyertai kehamilan, yaitu penyakit jantung, penyakit ginjal, penyulit kehamilan (hamil dengan perdarahan, hamil dengan gestosis, hamil dengan kelainan letak) dan kehamilan disertai anemia. Senam hamil dimulai pada umur kehamilan sekitar 26 sampai 30 minggu.
Latihan Pernafasan
1. Pernafasan Perut
a. Pernafasan terlentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm.
b. Letakkan kedua telapak tangan di atas perut sebagai perangsang.
c. Tarik nafas dari hidung dengan mulut tertutup, perut mengembang, kemudian keluarkan nafas dari mulut.
2. Pernafasan Dada
a. Tidur terlentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm.
b. Letakkan kedua telapak tangan di atas dada.
c. Tarik nafas dari mulut dan keluarkan melalui mulut.
d. Kegunaan: Mengurangi rasa sakit saat persalinan.
Gambar 2.5
Latihan pernafasan perut dan dada











Latihan Otot Pinggul
1. Tidur terlentang, kedua lutut dibengkokkan.
2. Letakkan kedua tangan di samping badan, tundukkan kepala dan kerutkan pantat kedalam hingga terangkat dari kasur.
3. Kempeskan perut hingga punggung menekan kasur. Rasakan tonjolan tulang panggul bergerak kebelakang.
4. Lemaskan kembali dan rasakan tonjolan tulang bergerak kembali kedepan. Ulangi gerakan ini 15 – 30 kali sehari.
Kegunaan: Mengurangi dan mencegah pegal-pegal, sakit pinggang dan punggung.



Gambar 2.6
Latihan Otot Pinggul






Latihan Untuk Sungsang
1. Ambil posisi merangkak, kedua lengan sejajar bahu, kedua lutut sejajar panggul dan agak diregangkan.
2. Kepala di antara kedua tangan, tolehkan ke kanan atau ke kiri.
3. Letakkan siku di atas kasur, geser siku sejauh mungkin ke kiri dan ke kanan hingga dada menyentuh kasur. Lakukan sehari 2 kali selama 15 – 20 menit/ kali.
Kegunaan: Memperbaiki posisi janin agar bagian kepala di bawah.
12. Kebiasaan Ibu Hamil yang tidak perlu dilakukan

Tabel : 2.5.
Kebiasaan Ibu Hamil Yang Tidak Perlu Dilakukan

Kebiasaan Keterangan
a. Mengurangi garam untuk mencegah preekalmpsia

b. Membatasi hubungan seksual untuk mencegah abortus dan kelahiran premature

c. Pemberian kalsium untuk mencegah kram pada kaki

d. Membatasi makan dan minum untuk mencegah bayi besar. a. Hipertensi bukan karena retensi garam

b. Dianjurkan untuk memakai kondom agar semen (mengandung prostaglandin) tidak merangsang kontraksi uterus
c. Kram pada kaki bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan kalsium.
d. Bayi besar disebabkan oleh gangguan metabolisme pada ibu seperti diabetes mellitus.
Sumber : (Saifuddin, Abdul Bari, 2006:98)
2.1.11. Tanda Bahaya Kehamilan
Pasien harus hati-hati akan tanda bahaya kehamilan, yaitu:
1. Perdarahan melalui vagina
2. Muntah terus-menerus
3. Menggigil atau demam
4. Disuria
5. Nyeri abdomen/ kejang rahim
6. Wajah/ tangan sembab
7. Gangguan penglihatan
8. Oligouria
9. Keluar rembesan cairan
10. Gerakan janin berkurang
11. Tanda-tanda persalinan prematur
(James R. Scott, 2002)
2.2. KONSEP DASAR ANTENATAL CARE
2.2.1. Definisi
Antenatal care adalah pelayanan yang diberikan anggota profesi kesehatan sebelum kelahiran digunakan sehubungan dengan janin. (Dorland, 2002).
2.2.2. Tujuan Antenatal Care
1) Tujuan Umum
Mempersiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama kehamilan, persalinan dan nifas. Sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.
2) Tujuan Khusus
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
(Syaifuddin, Abdul Bari, 2006:90)

2.2.3. Kebijaksanaan Program Kunjungan Antenatal Care
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal yaitu:
1) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
2) Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28 minggu)
3) Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36 dan sesudah minggu ka-36).

Tabel : 2.6.
Jadwal Kunjungan Ulang Antenatal

Kunjungan Waktu Informasi penting
Trimester I Sebelum minggu ke 12 a. Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil.

b. Mendeteksi masalah dan menanganinya.
c. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum anemia, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
d. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
e. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan kebersihan, istirahat)
Trimester II Antara minggu ke
14-28 a. Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil.
b. Mendeteksi masalah dan menanganinya.
c. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum anemia, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
d. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan kebersihan, istirahat)
f. Kewaspadaan khusus mengenai pre-eklampsia (gejala pre-eklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi odema, pemeriksaan untuk mengetahui protein)
Trimester III Antara minggu ke
38-36 a. Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil.
b. Mendeteksi masalah dan menanganinya.
c. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum anemia, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
d. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan kebersihan, istirahat)
f. Palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda
g. Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil
Setelah 36 minggu h. Mendeteksi masalah dan menanganinya.
i. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum anemia, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
j. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
k. Mendorong perilaku yang sehat, gizi, latihan kebersihan, istirahat)
l. Deteksi dini bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
Sumber : Syaifuddin, 2002
2.2.4. Asuhan Standart Minimal “7 T”
1) (Timbang) berat badan
2) Ukuran (tekanan) darah
3) Ukur (tinggi) fundus uteri
4) Pemberian imunisasi (tetanus toxoid) TT lengkap
5) Pemberian (tablet) Fe minimal 90 tablet selama kehamilan
6) (Tes) terhadap penyakit menular seksual
7) (Temu wicara) dalam rangka persiapan rujukan
(Syaifuddin, 2006)
2.2.5. Kebijakan teknis
1. Pemberian Vitamin Zat Besi
Dimulai dengan memberikan satu tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung Fe SO4 (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi karena akan mengganggu penyerapan.
2. Imunisasi TT
Tabel 2.7.
Imunisasi TT
Antigen Interval
(Selang Waktu Hamil) Lama perlindungan Prosentase perlindungan
TT1

TT2
TT3
TT4
TT5 Pada kunjungan antenatal pertama
4 minggu setelah TT1
6 bulan setelah TT2
1 tahun setelah TT3
1 tahun setelah TT4

3 tahun
5 tahun
10 tahun
Seumur hidup

80
95
99
99
Sumber : Saifuddin, 2006 : 91

2.2.6. Pemeriksaan Pada Ibu Hamil
1) Anamnesis
Berisi tentang identitas, HPHT, riwayat kehamilan persalinan dan nifas sebelumnya serta berat bayi yang pernah dilahirkan. Demikian pula riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat menstruasi, kesehatan keluarga, sosial, obstetri, kontrasepsi, dan faktor resiko yang mungkin ada pada ibu.
2) Pemeriksaan umum
Pada ibu hamil yang datang pertama kali dilakukan penilaian keadaan umum, status gizi, dan tanda vital serta dilakukan pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaki.

3) Pemeriksaan obstetri
a) Manuver palpasi menurut Leopold :
1. Leopold I : a. Untuk menentukan tinggi uteri sehingga usia kehamilan dapat diketahui
b. Untuk menentukan bagian janin pada fundus uteri
(Mansjoer, 2001:255)

Variasi menurut knebel
Menentukan letak kepala atau bokong dengan satu tangan di fundus dan tangan lain diatas simfisis. (Saminem, 2009:12)
2. Leopold II : a. Menentukan batas samping uterus
b. Menentukan posisi punggung pada bayi letak memanjang
c. Pada letak lintang untuk menentukan letak kepala
(Mansjoer, 2001:256)

Variasi menurut Budin :
Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan di fundus. (Saminem, 2009:12)
3. Leopold III : Untuk menentukan bagian janin yang berada di bawah
(Mansjoer, 2001:256)



Variasi menurut ahlfeld :
Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri diletakkan tegak di tengah perut. (Saminem, 2009:12)
4. Leopold IV : a. Menentukan bagian janin yang berada di bawah
b. Menentukan bagian kepala yang sudah masuk pintu atas panggul.
(Mansjoer, 2001:256)
Dari pemeriksaan leopold dapat ditentukan umur kehamilan dengan melihat tingginya tinggi fundus uteri maka diperoleh tabel :
Tabel : 2.8.
Tinggi Fundus Uteri Menurut Usia Kehamilan
Usia Kehamilan Tinggi fundus
12 minggu 3 jari atas symphisis
16 minggu Pertengahan antara pusat – symphysis
20 minggu 3 jari bawah pusat
22 minggu Setinggi pusat
28 minggu 3 jari atas pusat
34 minggu Pertengahan pusat – prosesus xifoideus
36 minggu Setinggi xifoideus
40 minggu Dua jari (4 cm) dibawah prosesus xifoideus
Sumber : (Saminem, 2009:7)
Setelah ditentukan bagian punggung dapat dihitung DJJ dengan cara :
1. Dihitung dalam 5 detik dan dilakukan sampai 3 kali. Hasilnya dijumlah dan dikalikan 4
2. Daerah yang paling jelas untuk mendengarkan DJJ disebut punctum maksimum. Ketika mendengarkan DJJ perhatikan frekuensi dan irama.
(Saminem, 2009 : 26)
b) Pemeriksaan panggul
Distansia spinarum : jarak antara spina illiaka anterior superior dekstra dengan sinistra 24-26 cm.
Distansia kristarum : jarak antara krista illiaka dekstra dengan sinitra 28-30 cm.
Konjugata eksterna : jarak antara bagian atas sympisis ke porssus spinosus lumbal V 18-20 cm.
Lingkar panggul : jarak antara tepi atas symfisis-trokanter mayor prosesus spino-sus lumbal V dan kembali ke tempat semula 80-90 cm.
(Wiknjosastro, 2005:111)
c) Pemeriksaan laboratorium
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan hitung leukosit. Dari urine-urine diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa. Bila perlu, lakukan pemeriksaan golongan darah, faktor Rhesus, reaksi Wasserman. Kahn, serologi, berat jenis urine, sitologi vaginal, dan lain-lain. (Mansjoer, 2001:257)
d) Diagnosis
Diagnosis dibuat untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:
1. Kehamilan normal
Ibu sehat, tidak ada riwayat obstetri buruk, ukuran uterus sesuai usia kehamilan, pemeriksaan fisik dan laboratorium.
2. Kehamilan dengan masalah Rhesus
Seperti masalah keluarga atau psiko-sosial, kekeranan dalam rumah tangga, kebutuhan finansial, dan lain-lain.
3. Kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan
Untuk konsultasi atau penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, pre-eklampsia, pertumbuhan janin terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit kelamin, dan kondisi-kondisi lain yang dapat memburuk selama kehamilan.
4. Kehamilan dengan kondisi kegawat daruratan yang membutuhkan rujukan segara.
Seperti perdarahan, eklapsia, ketuban pecah dan atau kondisi-kondisi kegawat daruratan lain pada ibu dan bayi.
(Saifuddin, 2006:94)
e) Keadaan darurat pada kehamilan
Keadaan darurat saat hamil yang mengharuskan ibu hamil untuk memeriksakan diri ke bidan atau ke DSOG adalah :
1. Berkaitan dengan janin
a. Badan panas disertai tanda infeksi lainnya
b. Gerak janin terasa berkurang atau menghilang
c. Perut terasa semakin kecil
2. Berkaitan dengan keadaan ibu
a. Mual dan muntah berlebihan
b. Terjadi pengeluaran abnormal, cairan mendadak, lendir apalagi bercampur darah dan perdarahan
c. Tanda subyektif gestosis, sakit kepala, pemandangan kabur, nyeri pada epigastrium/ ulu hati, pembengkakan tangan, muka, kelopak mata dan kaki (oedem anasarka) dan air seni berkurang
d. Sakit perut mendadak
e. Terjadi tanda-tanda inpartu, perut sakit disertai pengeluaran
3. Informasi yang diberikan pada ibu hamil pada trimester tiga
a. Nasehat tentang tanda-tanda inpartu, ke mana harus datang untuk melahirkan dan persiapan persalinan
b. Diet dengan gizi seimbang
c. Pemeriksaan ultrasonografi
d. Tanda-tanda penyakit yang menyertai kehamilan dan komplikasi hamil trimester ketiga (tanda bahaya)
e. Aktivitas dan kebutuhan istirahat
f. Keluarga berencana
g. Gerakan janin
h. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi.
(Saifuddin, 2006:98)
f) Skrining/ deteksi dini ibu resiko tinggi (Skor Poedji Rochjati)
Skor poedji Rochjati adalah berupa kartu skor untuk digunakan sebagai alat skrining antenatal berbasis keluarga guna menemukan faktor resiko ibu hamil, yang selanjutnya dilakaukan upaya terpadu untuk menghindari dan menceah kemungkinan terjadinya upaya komplikasi obstetrik pada saat persalinan  dengan Kartu Skor Poedji Rochjati.
Tujuan skrining antenatal
2) Melakukan deteksi dini resiko tinggi ibu hamil dengan macam faktor resikonya.
3) Menemukan ibu resiko tinggi dengan pengertian kemungkinan terjadinya resiko tinggi kematian/ kesakitan pada ibu dan atau bayinya.
4) Memberi penyuluhan dalam bentuk Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), mengenai kondisi ibu dan janin kepada ibu hamil, suami dan keluarga, agar tahu, peduli dan patuh untuk persiapan mental, biaya dan transportasi dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan tempat dan penolong menuju persalinan aman.
5) Membantu untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan cara memberi informasi, adanya faktor resiko dan kelompok resiko pada ibu hamil. Menentukan pengambilan keputusan oleh ibu hamil dan keluarganya.
Manfaat Kartu Skor Poedji Rochjati untuk :
1) Menemukan faktor resiko ibu hamil
2) Menentukan kelompok resiko ibu hamil
3) Alat pencatatan kondisi ibu hamil
Fungsi Kartu Skor Poedji Rochjati adalah
1) Melakukan skrining/ deteksi dini resiko tinggi ibu hamil
2) Memantau kondisi ibu dan janin selama kehamilan
3) Mencatat dan melapor keadaan kehamilan, persalinan, nifas
4) Memberi pedoman penyuluhan untuk persalinan aman berencana
5) Validasi data mengenai perawatan ibu selama kehamilan, persalinan, nifas dengan kondisi ibu dan bayinya.
Setiap ibu hamil mempunyai 1 kartu skor/ buku KIA yang dipantau oleh PKK, Kader Posyandu, Tenaga Kesehatan. Alat skrining/ deteksi dini resiko ibu hamil berupa Kartu Skor Poedji Rochjati. Format kartu skor disusun dengan format kombinasi antara cecklis dan sistem skor. Cecklis dari 19 faktor resiko dengan skor untuk masing-masing tenaga kesehatan maupun non kesehatan PKK (termasuk ibu hamil, suami dan keluarganya) mendapat pelatihan dapat menggunakan dan mengisinya.
Sistem skor :
Sistem skor digunakan untuk lebih memudahkan meneruskan aspek edukasinya mengenai berat ringannya resiko kepada ibu hamil, suami dan keluarga. Skor dengan nilai 2,4 dan 8 merupakan ukuran/ bobot resiko dari tiap faktor resiko. Sedangkan jumlah skor yang dibuat pada setiap melakukan kontak merupakan perkiraan besarnya resiko persalinan dengan perencanaan pencegahan. Alat yang digunakan adalah Kartu Skor sebagai gabungan antara checklist dari kondisi ibu hamil/ faktor resiko dengan masing-masing skornya, dikembangkan sebagai suatu teknologi sederhana, mudah, dapat diterima, cepat digunakan oleh tenaga non profesional PKK/ dukun/ guru dan lain-lain, dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat dan pemerintah.
Cara pemberian skor :
Skor awal X, sama untuk semua ibu hamil
Skor awal X+Y, nilai Y adalah skor dari faktor resiko kel. I ditemukan pada kontak pertama, misalnya bebas seksio atau faktor resiko lain berasal dari kelompok faktor resiko I, II, dan III.
Jumlah skor tetap atau bertambah, bila timbul faktor resiko lain, tetapi tidak menjadi berkurang.
Gambar : 2.7.
Tabel Skor Poedji Rochjati :
Keadaan dan Kondisi Ibu Hamil
















Gambar
Skor Poedji Rochjati :
Faktor Resiko-Ibu Resiko Tinggi








2.3. KONSEP DASAR KEHAMILAN SUNGSANG
2.3.1. Definisi
Kehamilan sungsang adalah kehamilan dimana bokong merupakan bagian terendah janin. (Saifudin, 2006:195)
Kehamilan sungsang adalah posisi dimana bayi di dalam rahim dengan kepala di atas sehingga pada saat persalinan normal, pantat atau kaki si bayi yang akan keluar terlebih dahulu dibandingkan kepala pada posisi normal. (www.wikipedi.co.id)
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri. (Mansjoer, 2000:306)
Kehamilan sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. (Wiknjosastro, 2005:606)
2.3.2. Klasifikasi
1. Letak bokong murni (frank breech)
Pinggul janin fleksi, kedua lutut ekstensi. Bokong paling bawah.
a. Sebagai pelebar pembukaan yang baik
b. 60% sampai 65% presentasi bokong: lebih sering pada aterm.
2. Letak bokong tak sempurna (incomplete breech)
Satu atau kedua pinggul fleksi tak sempurna
Ekstremitas bawah paling bawah
a. Satu kaki
b. Satu tangan
Sebagai pelebar pembukaan yang tidak baik, 25% sampai 35% pada presentasi bokong: lebih sering pada bayi prematur.
3. Presentasi bokong sempurna (complete breech)
Punggung dan kedua lutut janin fleksi.
Bokong paling bawah
a. Bisa menjadi bokong tak sempurna dalam persalinan
b. Presentasi bokong lebih jarang (5%).
Gambar : 2.8
Macam-macam Letak Sungsang








Sumber : (James R. Scott, 2002:282)
a. Bokong murni (frank)
b. Bokong tak sempurna (incomplete breech)
c. Bokong sempurna (complete breech)
2.3.3. Etiologi
1. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih banyak dan kepala anak relatif besar.
2. Hidramnion karena anak mudah bergerak.
3. Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala kedalam pintu atas panggul.
4. Bentuk rahim yang abnormal seperti uterus bikornis.
5. Panggul sempit, walaupun panggul sempit sebagai penyebab letak sungsang masih disangsikan oleh berbagai penulis.
6. Kelainan bentuk kepala yaitu hidrosefalus atau anensefalus kerena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.
(Wiknjosastro, 2005:611)
2.3.4. Diagnosis
1. Anamnese
Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada kehamilan yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah.
2. Palpasi
Diagnosis letak sungsang pada umumnya tidak sulit. Pada pemeriksaan luar, di bagian bawah uterus tidak dapat teraba bagian yang keras dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba di fundus uteri. Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala.

Gambar : 2.9.
Pemeriksaan Luar pada Letak Sungsang


Sumber : (Wiknjosastro, 2005: 607)


3. Auskultasi
Bunyi jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat atau tempat yang lebih tinggi daripada umbilikus.
4. Pemeriksaan Dalam
Bokong yang ditandai dengan adanya sakrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari
lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan.
(Wiknjosastro, 2005:609)
2.3.5. Prognosis
Kelahiran kepala janin yang lebih lama dari 8 menit setelah lepasnya umbilikus dilahirkan, akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu bila janin bernafas sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan, karena mukus yang terhisap dapat menyumbat jalan panas. Bahaya asfiksia janin juga terjadi akibat tali pusat yang menumbung, hal ini sering dijumpai pada presentasi bokong kaki sempurna atau bokong kaki tidak sempurna, tetapi jarang dijumpai pada presentasi bokong.
Perlakuan pada kepala janin terjadi karena kepala harus melewati panggul dalam waktu yang lebih singkat daripada persalinan presentasi kepala, sehingga tidak ada waktu bagi kepala untuk menyesuaikan diri dengan besar dan bentuk panggul. Kompresi dan dekompresi kepala terjadi dengan cepat, sehingga mudah menimbulkan luka pada kepala dan perdarahan dalam tengkorak.
Bila didapatkan disproporsi sefalo pelvik, meskipun ringan, persalinan dalam letak sungsang sangat berbahaya. Adanya kesempitan panggul sudah harus diduga waktu pemeriksaan antenatal; khususnya pada seorang primigravida dengan letak sungsang. Untuk harus dilakukan pemeriksaan lebih teliti, termasuk pemeriksaan panggul roentgenologik atau M.R.I. untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kesempatan. Multiparitas dengan riwayat obstetrik yang baik, tidak selalu menjamin persalinan dalam letak sungsang akan berlangsung lancar, sebab janin yang besar dapat menyebabkan disproporsi meskipun ukuran panggul normal.
2.3.6. Terapi
Mengingat bahaya-bahaya sebaiknya persalinan pada letak sungsang dihindarkan. Untuk itu bisa pada waktu pemeriksaan antenatal dijumpai letak sungsang, terutama pada primigravida hendaknya melakukan versi luar menjadi presentasi kepala. Versi luar sebaiknya dilakukan pada umur kehamilan 34 – 38 minggu. Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke 34 belum perlu dilakukan, karena kemungkinan besar janin masih dapat memutar sendiri. Sedangkan setelah minggu ke 38 versi luar sulit untuk berhasil karena janin sudah besar dan jumlah air ketuban relatif sudah berkurang. (Wiknjosastro, 2005:615)
Versi luar adalah suatu versi dilakukan dengan tangan penolong seluruhnya diluar kavum uteri. (Wiknjosastro, 2005:124)
Syarat-sayarat versi luar
Bagian-bagian terendah janin masih dapat didorong keluar pintu atas panggul (PAP), dinding perut ibu harus cukup tipis, janin harus dapat lahir pervaginan, selaput ketuban masih utuh, multigravida pada umur kehamilan 38 minggu. (Wiknjosastro, 2005:125)
Kontra indikasi untuk versi luar
a. Tekanan darah yang tinggi karena mudah terjadi solusio plasenta.
b. Jika ada luka parut pada dinding rahim seperti bekas SC atau luka enokleasi mioma.
c. Pada panggul sempit absolut.
d. Pada kehamilan ganda.
e. Pada hidramnion karena sukar dilakukan dan mudah berputar kembali.
f. Plasenta previa
g. Bunyi jantung anak yang buruk.
Prosedur versi luar
a. Tahap Mobilisasi : Mengeluarkan bagian terendah dari pintu atas panggul.
b. Tahap Eksenterasi : Membawa bagian terendah Kefossa Iliaka agar radius rotasi lebih pendek.
Gambar : 2.10.
Tahap Mobilisasi dan Eksenterasi

Sumber : (Wiknjosastro, 2005:126)
c. Tahap Rotasi : Memutar bagian terendah janin ke kutub yang dikehendaki.
Gambar : 2.11.
Tahap Rotasi

Sumber : (Wiknjosastro, 2005:126)
d. Tahap fiksasi : Memfiksasi badan janin agar tidak memutar kembali.
(Wiknjosastro, 2005:125)
Gambar : 2.12.
Tahap Memfiksasi Letak Janin

Sumber : Wiknjosastro Hanifa, Ilmu Bedah Kebidanan, 2000 : 127
2.3.7. Mekanisme Persalinan
Bokong masuk ke dalam rongga panggul dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Setelah menyentuh dasar panggul terjadi putar paksi dalam, sehingga di pintu bawah panggul paha menempati diameter anteposterior dan trokanter depan berada di bawah simpisis. Kemudian terjadi fleksi lateral pada badan janin, sehingga trokanter belakang melewati perineum dan lahirlah seluruh bokong diikuti oleh kedua kaki. Setelah bokong lahir terjadi putar paksi luar dengan perut janin berada di posterior yang memungkinkan bahu melewati pintu atas panggul dengan garis terbesar bahu melintang atau miring. Terjadi putar paksi dalam pada bahu, sehingga bahu depan berada di bawah simpisis dan bahu belakang melewati perineum. Pada saat tersebut kepala masuk ke dalam rongga panggul dengan futura sagitalis melintar atau miring. Di dalam rongga panggul terjadi putar paksi dalam kepala, sehingga muka memutar ke posterior dan oksiput ke arah simpisis. Dengan suboksiput sebagai hipomoklion, maka dagu, mulut, hidung, dahi, dan seluruh kepala lahir berturut-turut melewati perineum. Ada perbedaan nyata antara kelahiran janin dalam presentasi kepala dan kelahiran janin dalam letak sungsang. Pada presentasi kepala, yang lahir lebih dahulu ialah bagian janin yang besar, sehingga bila kepala telah lahir, kelahiran badan tidak memberi kesulitan. Sebaliknya pada letak sungsang, berturut-turut lahir bagian-bagian yang makin lama makin besar, dimulai dari lahirnya bokong, bahu, dan kemudian kepala. Dengan demikian meskipun bokong dan bahu telah lahir, hal tersebut belum menjamin bahwa kelahiran kepala juga berlangsung dengan lancar. (Wiknjosastro, 2005:611-613)
Gambar : 2.13.
Mekanisme Persalinan Letak Sungang



Sumber : (Wiknjosastro, 2005:612)
2.4. KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. “...” GIP00000 USIA KEHAMILAN 26-28 MINGGU DENGAN KELAINAN LETAK SUNGSANG.
Asuhan kebidanan adalah merupakan penggambaran hubungan antara bidan dan kliennya dalam konteks pemberian dari pemenuhan kebutuhan klien. (Cristina Lia Uripni, 2003).
Dalam pemberian asuhan kebidanan pada klien bidan menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah dengan difokuskan pada suatu proses sistematis dan analisis. Dalam pemberian asuhan kebidanan tersebut, penulis menggunakan 7 langkah management kebidanan Hallen varney, yaitu
2.4.1. Pengkajian
Merupakan langkah awal untuk mendapatkan data tentang keadaan ibu malalui anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan data-data tersebut diklarifikasikan sebagai data subyektif dan obyektif dan data pengunjung.
1) Data Suyektif
Data subyektif adalah data yang didapat dari hasil wawancara atau anamnesa langsung pada klien, keluarga dan tim tenaga kesehatan lain. Dalam hasil anamnesa terhadap klien tentang masalah kesehatan yang dialami, meliputi hal-hal sebagai berikut
a) Biodata
Biodata berisi tentang identitas klien beserta suaminya yang meliputi nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, suku bangsa, status perkawinan yang meliputi perkawinan ke berapa, umur kawin, lama kawin, dan alamat. Dari biodata yang dikaji diharapkan dapat memberikan gambaran tentang faktor resiko, keadaan sosial ekonomi dan pendidikan klien atau keluarga yang mempengaruhi kondisi klien.
b) Keluhan utama / alasan kunjungan
Keluhan yang dapat menyebabkan klien datang ke pelayanan kesehatan karena merasa dirinya terganggu. Klien ingin memeriksakan kehamilannya, beberapa keluhan yang terjadi pada kehamilan letak sungsang yaitu ibu merasakan kehamilannya terasa lain dari biasanya karena terasa penuh pada perut bagian atas dan gerakan janin lebih banyak di bagian bawah.
c) Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan klien dari bulan pertama kehamilan hingga saat klien datang untuk kontrol hamil, apakah saat ini klien sedang menderita suatu penyakit yang membahayakan kehamilannya seperti mual berlebih, pusing berlebih, pandangan kabur, nyeri epigastrium, bengkak pada tangan kaki wajah, terjadi perdarahan.
2. Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah ada riwayat ibu pernah menderita penyakit menahun seperti kencing manis, darah tinggi, asma, jantung. Penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, penyakit kuning. Apakah klien pernah MRS atau melakukan operasi.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu ditanyakan apakah dari keluarga klien ada yang mempunyai penyakit menahun seperti kencing manis, darah tinggi, asma, jantung. Penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, penyakit kuning. Selain itu tanyakan apakah dari keluarga klien atau keluarga suaminya ada yang mempunyai keturunan kembar atau kelainan bawaan.
d) Riwayat kebidanan
1. Riwayat haid
Yang ditanyakan menarche umur berapa, berapa hari siklus haid, teratur/ tidak lama haid, jumlah darah haid (berapa kali ganti pembalut perhari), konsistensi darah haid (cair atau lendir), warna darah haid (merah, coklat), bagaimana baunya, nyeri atau tidak saat haid (dismenorhoe), bila ya kapan, apakah sebelum, saat, atau sesudah haid, ada atau tidak fluor albus (jika ada ditanyakan, kapan apakah sebelum, sesudah atau diluar haid, banyak atau tidak, bagaimana kondisinya, warna, bau, gatal atau tidak).

2. Riwayat kehamilan sekarang
Pada riwayat kehamilan sekarang didapatkan :
a. Hamil ke;
b. HPHT;
c. HPL;
d. Umur kehamilan;
e. Frekuensi ANC minimal 4 x yaitu TM 1 x, TM II 1 x, TM III 2 x, ditanyakan kapan dan dimana.
f. Keluhan selama kehamilan pada TM I adalah sering BAK, mual, muntah, pusing, terjadinya cloasma gravidarum, pada TM II jarang dijumpai keluhan karena klien sudah bisa beradaptasi dengan kehamilan dan pada TM III didapat keluhan sesak nafas, sering BAK, sakit pinggang, oedem pada kaki, adanya kontraksi Braxton-Hicks,cemas menghadapi persalinan.
g. Imunisasi TT dilakukan 3 x, TT1 dilakukan sebelum menikah atau disebut CPW (Calon Pengantin Wanita), TT2 dilakukan 4 minggu setelah TT1, TT3 dilakukan 6 bulan setelah TT2. ditanyakan juga dimana melakukan imunisasi TT.
h. Obat dan vitamin juga harus didapat ibu hamil adalah Tablet Fe 90 butir, tablet kalk.
i. Ditanyakan penyuluhan apa saja yang pernah didapat.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Menunjukkan keterangan tentang kehamilan, persalinan, nifas yang dialami sebelumnya yang meliputi hamil ke berapa, dari pernikahan yang ke berapa, ada atau tidak penyulit kehamilan, apakah pernah mengalami keguguran (jika pernah, kapan, apakah sudah dicuretage, dimana), persalinan normal atau dengan tindakan (vacum, forcep, operasi SC), adakah penyulit persalinan, ditolong siapa, dimana, berapa berat badan lahir bayi dan panjang badan bayi, jenis kelamin, jika anak masih hidup sekarang umur berapa, hidup atau mati, jika sudah mati dikarenakan oleh apa, kapan, nifas normal atau dengan penyulit, diberi ASI sampai anak umur berapa.
e) Riwayat KB
Jenis kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa lama menggunakannya, apakah ada efek samping dalam pemakaian KB tersebut apa rencana KB yang akan digunakan setelah persalinan nanti.
f) Keadaan psikososial
Keadaan psikologis yang sering dialami pada kehamilan TM II adalah ibu mulai dapat menerima kehamilannya.. Selain itu kadang klien juga menginginkan jenis kelamin bayinya laki-laki atau perempuan.
g) Latar belakang sosial budaya
Ditanyakan apakah ada sosial budaya yang mendukung kehamilan seperti ibu tidak tarak makan, ibu dianjurkan oleh keluarga untuk memeriksakan kehamilan secara rutin, ibu dianjurkan untuk makan dengan teratur, ibu tidak minum jamu-jamuan. Selain itu ditanyakan juga adanya sosial budaya yang menghambat kehamilan seperti ibu tarak makan, ibu minum jamu-jamuan, ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.
h) Pola kebiasaan-hari
1. Pola nutrisi
Sebelum hamil : ditanyakan berapa kali makan tiap hari, bagaimana menu dan porsinya. Ditanyakan juga minum berapa gelas per hari, apa jenis minumannya.
Saat hamil : porsi wania hamil 2 x lebih banyak dari biasanya dengan menu sesuai gizi seimbang misalnya nasi 4-5 piring, ikan 3 potong, tahu/tempe 5 potong, sayuran 3 mangkok, buah 2 potong, susu 1 gelas, air putih 8-10 gelas.
2. Pola eliminasi
Sebelum hamil : ditanyakan berapa kali BAB dan BAK per hari, bagaimana warna dan baunya, ada keluhan atau tidak. Untuk BAB ditanyakan bagaimana konsistensinya.
Saat hamil : BAB 1 x/hari, konsistensi lembek, bau khas, warna kuning, tidak ada keluhan, BAK 8-10 x/hari, warna kuning, jernih, bau khas, tidak ada keluhan.
3. Pola istirahat
Sebelum hamil : ditanyakan berapa lama ibu tidur siang dan malam hari, tidurnya nyenyak atau tidak.
Saat hamil : wanita hamil idealnya dalam sehari melakukan istirahat 8-10 jam.
4. Pola aktivitas
Sebelum hamil : ditanyakan apa saja kegiatan ibu sebelum hamil, apakah ibu bekerja, jika iya bekerja apa.
Saat hamil : ditanyakan apa saja kegiatan ibu selama hamil, seharusnya wanita hamil mengurangi kerja yang berat.
5. Pola personal hygiene
Sebelum hamil : ditanyakan berapa kali klien mandi, gosok gigi, ganti pakaian luar dan dalam perhari, berapa kali keramas dalam 1 minggu, berapa kali potong kuku dalam 1 minggu.
Saat hamil : ditanyakan berapa kali klien mandi, gosok gigi, ganti pakaian luar dan dalam perhari, berapa kali keramas dalam 1 minggu, berapa kali potong kuku dalam 1 minggu.
6. Pola seksualitas
Sebelum hamil : 2-3 x/hari tanpa keluhan
Saat hamil : tidak boleh dilakukan jika ada riwayat keguguran, tidak dilakukan jika ibu merasa ada keluhan saat atau setelah melakukan hubungan seksual.
2) Data Obyektif
Adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi dan pemeriksaan terdiri dari :
a) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
Postur tubuh : lordosis
Cara berjalan : normal
Tinggi badan : > 145 cm
Berat badan sebelum hamil : kg
Berat badan : kg
Kenaikan berat badan : 12-16 kg
Lila : ≥ 23,5 cm
b) Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 100/70 - < 140/90 mmHg
Nadi : 76 – 92 x/menit
Suhu : 36,5 – 37,5o C
Pernafasan : 16 – 24 x/menit
c) Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi yaitu proses observasi atau pemeriksaan pandang dengan menggunakan pandangan mata untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.
Kepala : bagaimana kebersihan rambut, ada ketombe atau tidak, bagaimana jenis rambut, warna rambut, ada lesi atau tidak, rontok atau tidak
Muka : apakah ada cloasma gravidarum atau tidak, pucat atau tidak, oedema atau tidak, ada lesi atau tidak.
Mata : simetris atau tidak, ada sekret atau tidak, ada lesi atau tidak, bagaimana warna conjungtiva dan sklera, terdapat oedem palpebra atau tidak, ada strabismus non paralitika atau tidak.
Hidung : bagaimana kebersihannya, apakah ada sekret, ada lesi atau tidak, ada pernafasan cuping hidung atau tidak, apakah ada polip.
Mulut & gigi : simetris atau tidak, bersih atau tidak, mukosa bibir kering atau lembab, ada stomatitis atau tidak, ada caries gigi atau tidak, ada tonsilitis atau tidak, apakah ada gigi palsu, lidah bersih atau kotor, ada tanda- tanda peradangan atau tidak.
Telinga : simetris atau tidak, bagaiman kebersihannya, apakah ada serumen atau tidak
Leher : bersih atau tidak, pembesaran kelenjar tyroid atau vena jugularis ada atau tidak.
Axilla : simetris, bersih atau tidak, ada pembesaran kelenjar limfe atau tidak, ada lesi atau tidak
Mammae : simetris, ada lesi atau tidak, hyperpigmentasi pada areolla mammae, apakah ada pembesaran kelenjar montgomery, bagaimana bentuk puting susu.
Abdomen : perut membesar sesuai usia kehamilan, adakah striae livide, linea nigra, ada atau tidak luka bekas operasi.
Punggung : bersih, ada lesi atau tidak, bentuk tulang lordosis.
Genetalia : bagaimana kebersihan vulva, apakah ada pembengkakan kelenjar batholini, ada atau tidak condiloma acuminata atau condiloma talata, ada atau tidak oedem dan varices, ada pengeluaran pervaginam atau tidak, ada jaringan parut atau tidak.
Anus : ada hemoroid atau tidak
Ekstremitas atas : simetris atau tidak, apakah ada gangguan pergerakan atau tidak, oedem atau tidak
Ekstremitas bawah : simetris atau tidak, apakah ada kelainan jumlah jari dan gangguan pergerakan atau tidak, oedem atau tidak, ada varices atau tidak
2. Palpasi adalah pemeriksaan raba atau sentuhan untuk mendeteksi ciri-ciri jaringan atau organ.
Kepala : ada benjolan atu tidak, ada nyeri tekan atau tidak.
Muka : ada oedema atau tidak.
Mata : ada oedema palpebra atau tidak.
Leher : adakah pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Axilla : adakah pembesaran kelenjar limfe
Payudara : ada benjolan atau tidak, ada nyeri tekan atau tidak, kolostrum sudah keluar.
Abdomen :
Leopold I : menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang ada di fundus, bila kepala teraba keras, melenting, bulat, bila bokong teraba lunak, kurang bulat dan tidak melenting.
Pada kehamilan 26-28 minggu dengan letak sungsang. Tinggi fundus uterinya adalah 1 jari atas pusat, dan pada fundus teraba kepala.
TBJ : dihitung dengan (TFU-13) x 155
Variasi menurut Knebel :
Menentukan letak kepala atau bokong dengan satu tangan di fundus dan tangan lainnya di atas symfisis.
Leopold II : menentukan batas samping rahim kanan kiri, menentukan letak punggung janin, bila teraba keras memanjang seperti papan berarti pangung. Pada letak lintang dapat menentukan dimana kepala janin.
Variasi menurut Buddin :
Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan fundus dan tangan lainnya menelusuri bagian samping perut ibu.
Leopold III : menentukan bagian terbawah pada janin dan apakah bagian bawah tersebut sudah masuk pintu atas panggul. Pada letak sungsang bagian terendah teraba bokong.
Variasi menurut Ahfeld :
Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri diletakkan tegak ditengah perut dan tangan lainnya yang mene-lusuri bagian samping perut ibu.
Leopold IV : menentukan seberapa jauh bagian terbawah janin sudah masuk pintu atas panggul, apakah 4/5; 3/5; 2/5; 1/5; 0/5 bagian.
Mc. Donald : TFU (cm)/ 3,5 = Bulan
Genetalia : ada pembesaran kelenjar bartholini/ skene atau tidak.
Ekstremitas atas : ada oedem atau tidak
Ekstremitas bawah : ada oedema atau tidak
3. Auskultasi adalah pengkajian yang menggunakan pendengaran atau menggunakan stetoskop untuk memperjelas pendengaran.
Dada : apakah ada bunyi ronchi dan wheezing.
Abdomen : terdengar detak jantung janin (DJJ) pada pucntum maximum puki atau puka setinggi atau diatas pusat dengan frekuensi 120-160 x/menit.
4. Perkusi adalah dengan cara mengetuk dari jari tangan atau dengan humer terutama untuk melihat reflek patella pada lutut dan untuk memeriksa ada atau tidak meteorismus pada abdomen.
d) Pemeriksaan panggul luar
Dilakukan pada primigravida, dan multigravida yang belum pernah melakukan persalinan pervaginam, TB < 145 cm, untuk mengetahui adanya kelainan yang dapat menimbulkan penyakit dalam persalinan. Alat yang sering dipakai adalah jangka panggul atau metlin.
Distansia spinarum : jarak antara spina illiaka anterior superior dekstra dengan sinistra 24-26 cm.
Distansia kristarum : jarak antara krista illiaka dekstra dengan sinitra 28-30 cm.
Konjugata eksterna : jarak antara bagian atas sympisis ke porssus spinosus lumbal V 18-20 cm.
Lingkar panggul : jarak antara tepi atas symfisis-trokanter mayor prosesus spino-sus lumbal V dan kembali ke tempat semula 80-90 cm.
e) Pemeriksaan Dalam
Apakah dilakukan atau tidak.
f) Pemeriksaan penunjang
Merupakan data yang diperlukan untuk mendukung diagnosa misalnya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan protein urine, albumin dan pemeriksaan darah (Hb) dan juga pemeriksaan USG.
2.4.2. Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan dan diinterprestasikan sehingga ditemukan suatu masalah atau diagnosa yang spesifik.
1) Diagnosa : Ny. “...” GIP00000 UK 26 - 28 minggu, tunggal, hidup, intrauteri, letak bokong, jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
Ds : ada komunikasi secara verbal maupun non verbal yang menyatakan bahwa ibu hamil anak pertama dengan umur kehamilan 7 bulan dan ibu merasa sesak pada perut bagian atas.
Do : TTV : Tekanan darah : 100/70-< 140/90 mmHg
Nadi : 76 – 92 x/menit
Suhu : 36,5 – 37,5o C
Pernafasan : 16 – 24 x/menit
Hamil ke :
HPHT :
HPL :
UK :
Palpasi :
Abdomen : Leopold I : TFU 1 jari di atas pusat, pada fundus teraba kepala.
Jhosen tausak : TBJ = (TFU-13) x 155
= (24-13) x 155 = 1705 gram
Leopold II : bagian lateral kiri perut ibu teraba punggung dengan ciri-iri keras, lurus seperti papan. Sedangkan bagian lateral kanan perut ibu teraba bagian terkecil janin.
Leopold III : bagian bawah uterus teraba bokong dengan ciri lunak, kurang bulat, kurang melenting.
Leopold IV : bagian terendah janin sudah masuk PAP... bagian
Mc. Donald : TFU 24 cm, UK 24/ 3,5 = 6,8 bulan
Auskultasi : DJJ + 120-160 x/menit, punctum maksimum setinggi atau di atas pusat.
Pemeriksaan panggul luar
Distansia spinarum : jarak antara SIAS dekstra sinistra 24-26 cm
Distansia cristarum : jarak antara krista illiaka dekstra sinistra 28-30 cm
Konjugata eksterna : jarak antara bagian atas symfisis sampai prossus spinosus lumbal V : 18-20 cm.
Lingkar panggul : jarak antara tepi atas symfisis-SIAS-prosesus spinosus lumbal V dan kembali ke tempat semula V dan kembali ke tempat semula 80-90 cm.
2.4.3. Antisipasi Masalah Potensial
Mengidentifikasi masalah potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi, langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah benar-benar terjadi.
2.4.4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Merupakan langkah yang membutuhkan sifat kesinambungan dari proses penatalaksanaan asuhan primer periodik dan saat bidan berada bersama klien. Data-data baru senantiasa dikumpulkan dan dievaluasi, beberapa data indikasi adanya siatuasi yang gawatdarurat dimana bidan bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa klien dan janin.
2.4.5. Intervensi
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan untuk langkah selanjutnya. Langkah ini merupakan kelanjutan management terhadap diagnosa masalah yang diidentifikasi atau diantisipasi pada langkah ini, informasi atau data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Pada langkah ini dibuat suatu kesepakatan bersama antara klien, keluarga dan tenaga kesehatan yang terdiri dari kesepakatan bersama antara klien, keluarga dan tenaga kesehatan yang terdiri dari tujuan dibuat suatu asuhan kebidanan, kriteria hasil yang diharapkan, dan rasional dari setiap intervensi yang diberikan sehingga dapat dipertanggung jawabkan.
1) Diagnosa : Ny. “...” GIP00000 usia kehamilan 26 - 28 minggu, tunggal, hidup, intrauteri, letak bokong, jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
Tujuan :
Jangka Pendek : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 x 45 menit diharapkan ibu dapat mengerti tentang kondisinya dan memahami tentang kehamilannya.
Jangka Panjang : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 x 20 hari diharapkan ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan kehamilan dalam keadaan baik.
Kriteria hasil : 1) Ibu dalam keadaan sehat
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : Composmentis
2) Ibu memahami keadaan yang dialami sekarang
3) Ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
4) Ibu dapat mengulang kembali penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Kriteria hasil : 1) Ibu dalam keadaan sehat
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV normal
TD : 100/70 – 130/90 mmHg
N : 76 – 92 x/menit
S : 36,5 – 37,5 C
RR : 16 – 24 x/menit
2) Bayi dalam keadaan sehat
a) DJJ : 120- 160 x/menit
b) Terjadi penambahan taksiran berat janin
(TBJ)
c) Terasa gerakan janin
3) Posisi bayi kembali normal (tidak sungsang).
Intervensi
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
Rasional : Dengan menjelaskan hasil pemeriksaan diharapkan ibu dapat memahami kondisi kesehatan dan kehamilannya sekarang.
2. Ajarkan dan jelaskan pada ibu tentang cara melakukan posisi sujud (genu pectoral).
Rasional : Dengan posisi sujud dapat memanfaatkan gaya gravitasi untuk merubah posisi bayi.
3. Jelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan TM II.
Rasional : Dengan menjelaskan tentang tanda bahaya kehamilan TM II dapat mendeteksi dini adanya komplikasi.
4. Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat
Rasional : Dengan bekerja tidak terlalu berat diharapkan ibu tidak terlalu capek sehingga keadaan ibu dalam keadaan baik.
5. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
Rasional : Dengan istirahat cukup dapat menjaga kondisi ibu dan merelaksasi otot- otot tubuh.
6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
Rasional : Dengan mengkonsumsi makanan gizi seimbang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin, untuk persiapan dalam persalinan, dan memperlancar produksi ASI pada masa nifas.
7. Ajarkan pada ibu tentang cara melakukan senam hamil usia kehamilan 26 – 28 minggu.
Rasional : Dengan melakukan senam hamil dapat melatih otot-otot panggul sehingga dapat memperlancar proses persalinan.
8. Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.
Rasional : Tablet Fe mengndung zat basi sehingga dapat mencegah terjadinya anemia.
9. Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan kontrol 1 bulan lagi atau bila ada keluhan.
Rasional : Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin dapat mendeteksi adanya komplikasi.

2.4.6. Implementasi
Implentasi yang komprehensif merupakan pengeluaran dan perwujudan dari rencana yang telah disusun pada tahap-tahap perencanaan. Pelaksanaan dapat terealisasi dengan baik apabila diterapkan berdasarkan hakekat masalah. Jenis tindakan atau pelaksanaan bisa dilaksanakan oleh bidan sendiri, klien, kolaborasi sesama tim atau kesehatan lain dan rujukan dari profesi lain.

2.4.7. Evaluasi
Evaluasi adalah seperangkat yang saling berhubungan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan asuhan kebidanan yang didasarkan pada tujuan dan kriteria. Manfaat mengevaluasi atau menilai keberhasilan dalam pemberian asuhan kebidanan, menilai efektifitas dari asuhan kebidanan, sebagai umpan balik untuk mempebaiki asuhan selanjutnya. Untuk menyusun langkah baru dalam asuhan kebidanan, menunjang tanggung jawab dan tanggung gugat dalam asuhan kebidanan. Dalam mengevaluasi menggunakan format SOAP, yaitu :
S : Data yang diperoleh dari wawancara langsung.
O : Data yang diperoleh dari observasi dan pemeriksaan.
A : Pernyataan yang terjadi atas data subyektif dan data obyektif
P : Perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah.







BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 05 April 2009 Jam : 16.45 WIB
Tempat : BPS Ny. Fitria Agustina Amd.Keb.
3.1.1. Data Subyektif
3.1.1.1. Biodata
Nama : Ny. “H”
Umur : 25 th
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : PT
Pekerjaan : Guru TK
Penghasilan : Rp. 1.000.000/bln
Kawin ke : 1
Umur Kawin : 23 th
Lama kawin : 2 tahun
Gol. Darah : B
Alamat : Dsn. Watugudel, Pitu, Ngawi Nama Suami : Tn. “S”
Umur : 29 th
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Penghasilan : Rp. 500.000/bln
Kawin ke : 1
Umur kawin : 28 th
Lama kawin : 2 tahun
Gol. Darah : -
Alamat : Dsn. Watugudel, Pitu, Ngawi



3.1.1.2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan pertamanya dengan usia kehamilan 7 bulan dan merasa sesak pada perut bagian atas.
3.1.1.3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dengan usia kehamilan 7 bulan dalam keadaan sehat dan tidak sedang menderita penyakit apapun. Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit yang membahayakan kehamilan seperti mual berlebih, pusing berlebih, pandangan kabur, nyeri epigastrium, bengkak pada tangan kaki dan wajah, perdarahan.
3.1.1.4. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah MRS dan tidak pernah menderita penyakit menahun seperti kencing manis, darah tinggi, asma, jantung, tidak pernah menderita penyakit menular seperti HIV/ AIDS, TBC, penyakit kuning. Ibu juga tidak pernah operasi.
3.1.1.5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita penyakit menahun seperti kencing manis, darah tinggi, asma, jantung, ataupun penyakit menular seperti HIV/ AIDS, TBC, penyakit kuning. Tidak ada riwayat kembar atau cacat bawaan dari pihak keluarga.
3.1.1.6. Riwayat Kebidanan
1. Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun
Siklus :  30 hari
Lamanya : 7 hari
Banyaknya : hari 1-3 ganti softek 3x/hari
hari 4-7 ganti softek 2x/hari
Warna : merah kehitaman (hari 1-2), merah kecoklatan (hari 3-5), coklat (hari 6-7)
Konsistensi : cair bergumpal (hari 1-3), cair (hari 4-5), flek berlendir (hari 6-7)
Bau : anyir, khas
Deisminorhoe : tidak
Flour albus : ada 2 hari sesudah haid, putih, tidak bau, tidak gatal
2. Riwayat Kehamilan Sekarang
Hamil ke : I
HPHT : 01 – 10 – 2008
HPL : 08 – 07 – 2009
UK : 26 minggu lebih 4 hari
ANC :
TM I : 2 x, di BPS keluhan : mual, pusing
Terapi : Vitamin B6, asam folat.
TM II : 2 x, di BPS, keluhan : tidak ada
Terapi : Fe, kalk, Vit C.
TM III : –
Skor Poedji Rochyati
Skor awal : 2
Letak sungsang : 8
Jumlah skor : 10
Imunisasi TT
TT I : CPW
TT II : 4 bulan setelah TT 1
Penyuluhan yang pernah didapat :
TM I : a. Penyuluhan tentang gizi ibu hamil
b. Penyuluhan tentang istirahat cukup
TM II : a. Penyuluhan tentang perawatan payudara
b. Penyuluhan tentang senam hamil
TM III : –
3. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Yang Lalu
Kawin
Ke Kehamilan Persalinan Nifas
Ke UK Penylt Penlng Tmpt Jns
Prslnn BBL PBL ♂/♀ Umur
Skr Pnyult Hidup/Mati Penylt ASI
Eksklusif
1 1 HAMIL INI

4. Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelum kehamilan ini tidak pernah ikut KB apapun, dan setelah melahirkan ibu belum tahu akan ikut KB apa.
5. Riwayat Ginekologi
Ibu mengatakan tidak pernah keguguran, kuretase, tidak pernah menderita pelvic inflamatori disease (PID), mioma uteri, Ca cervik, penyakit menular seksual (PMS), tidak pernah mengalami perdarahan menstruasi yang berlebih, tidak pernah mengalami keputihan berbau dan berubah warna.
3.1.1.7. Keadaan Psikososial
1. Ibu, suami, dan keluarga sangat bahagia dengan kehamilan ini
2. Hubungan ibu, suami, keluarga, dan tetangga baik.
3. Ibu menginginkan bayinya berjenis kelamin perempuan.
3.1.1.8. Latar Belakang Sosial Budaya
1. Sosial budaya yang mendukung kehamilan:
a. Ibu mengatakan tidak pernah tarak makan
b. Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan.
c. Ibu dianjurkan oleh keluarga untuk memeriksakan kehamilan secara rutin.
d. Ibu dianjurkan keluarga untuk makan dengan teratur.
2. Sosial budaya yang menghambat:
Dalam keluarga tersebut tidak ada kebiasaan yang menghambat.
3.1.1.9. Pola Kebiasaan Sehari-Hari
1. Pola Nutrisi
Sebelum hamil : makan 3x/hr, porsi sedang (nasi ½ piring, sayur ½ gelas, tempe 1 potong korek api, telur 1x/hari (kadang daging), kadang buah (pepaya, pisang).
minum : 7-8 gls/hari (air putih, teh)
Selama hamil : makan 3x/hari, porsi sedang (nasi ½ piring, sayur ½ gelas, tempe 2 potong korek api, telur 2x/hari (kadang daging), kadang buah (pepaya, pisang, apel).
minum : 9-10 gls/hari (air putih, teh kadang susu).
2. Pola Eliminasi
Sebelum hamil : BAB: 1x/hr, warna kuning, konsisitensi lunak, bau khas dan tidak nyeri
BAK : 3-4 x/hr, warna kuning, jernih, bau khas dan tidak nyeri
Selama hamil : BAB: 1x/hr, warna kuning, konsisitensi lunak, bau khas dan tidak nyeri
BAK : 5-6x/hr, warna kuning, jernih, bau khas dan tidak nyeri
3. Pola Istirahat
Sebelum hamil : Siang : 14.00-15.00 WIB, (tdk ada keluhan)
Malam : 21.00-04.30 WIB, (tdk ada keluhan)
Selama hamil : Siang : 14.00-15.30 WIB, (tdk ada keluhan)
Malam : 21.00-04.30 WIB (kadang bangun untuk BAK)
4. Pola Aktivitas
Sebelum hamil : Aktivitas ibu sehari-hari adalah mengajar, dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak, menyapu dibantu ibu dan suami.
Selama hamil : Ibu masih tetap mengajar, dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang ringan-ringan saja seperti: menyapu, merapikan baju.
5. Pola Personal Hygiene
Sebelum hamil : mandi 2x/hr, gosok gigi 2x/hr (setiap habis mandi), keramas 2x/minggu, ganti baju 2x/hr, ganti pakaian dalam 2x/hr, potong kuku 1x/minggu.
Selama hamil : mandi 2x/hr, gosok gigi 2x/hr (setiap habis mandi), keramas 3x/minggu, ganti baju 2x/hr, ganti pakaian dalam 2x/hr, potong kuku 2x/minggu.
6. Pola Seksualitas
Sebelum hamil : Ibu melakukan hubungan seksual 1-3 x/minggu dan tidak ada keluhan
Selama hamil : TM I : 1x/ 2 minggu, tidak ada keluhan
TM II : 1x/minggu, tidak ada keluhan
TM III : –

3.1.2. Data Obyektif
1. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Postur tubuh : Lordosis
Cara berjalan : Tegak
TB : 150 cm
BB sekarang : 58 kg
BB sebelum hamil : 52 kg
Kenaikan BB : 6 kg
LILA : 24 cm

2. TTV
TD : 110/70 mmHg
N : 86 x/menit
S : 36,5 oC
RR : 20 x/menit
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Kepala : kulit kepala bersih, tidak ada ketombe, rambut hitam, lurus, panjang.
Muka : bersih, tidak ada lesi, tidak pucat, tidak kuning, tidak ada cloasma gravidarum.
Mata : simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak ada sekret, sklera putih, konjungtiva merah muda, tidak strabismus non paralitika.
Hidung : bersih, tidak ada lesi, tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada pernafasan cuping hidung.
Mulut dan gigi : simetris, bersih, tidak ada lesi, bibir lembab, tidak ada caries, tidak ada epulis, tidak ada gigi palsu, lidah bersih, tidak stomatitis, tidak ada tonsilitis, tidak ada tanda-tanda peradangan.
Telinga : simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak ada serumen.
Leher : bersih, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran kelenjar thyriod dan vena jugularis.
Axilla : simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Mammae : simetris, bersih, tidak ada lesi, hyperpigmentasi pada areola mamae dan papilla mamae, papilla mamae menonjol.
Abdomen : bersih, tidak ada lesi, tidak ada luka bekas operasi, membesar sesuai usia kehamilan, terdapat linea nigra, dan strie livida.
Punggung : bersih, tidak ada lesi, bentuk tulang punggung lordosis.
Genetalia : bersih, tidak oedem, tidak ada varices, tidak terdapat candiloma acuminata/ talata, tidak ada pengeluaran pervaginam, tidak ada jaringan parut, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini/ skene.
Anus : bersih, tidak hemorroid
Ekstrimitas atas : simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak oedema, tidak ada kelainan jumlah jari, tidak ada gangguan pergerakan.
Ekstrimitas bawah : simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak oedema, tidak ada kelainan jumlah jari, tidak ada gangguan pergerakan.
b. Palpasi
Kepala : tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, rambut tidak rontok.
Muka : tidak oedema
Mata : tidak oedema palpebra.
Leher : tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
Axilla : tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Mammae : tidak ada benjolan tidak ada nyeri tekan, colostrum -/- (belum keluar).
Abdomen : tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada hepatomegali.
Leopold I : TFU 1 jari di atas pusat (24 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (24 – 13) x 155 = 1705 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 24/3,5 = 6,8 Bulan
Genetalia : Tidak ada pembesaran kelenjar bartholini/ skene.
Ekstrimitas atas : tidak oedema
Ekstrimitas bawah : tidak oedema
c. Auskultasi
Dada : bunyi nafas bersih, tidak terdengar ronchi dan wheezing
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 11) = 140 x/menit punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
d. Perkusi
Dada : Resonan (dug- dug)
Abdomen : tidak meteorismus
Reflek patella : +/+

4. Pemeriksaan Panggul
Distansia spinarum : 24 cm
Distansia cristarum : 29 cm
Conjugata eksterna : 19 cm
Lingkar panggul : 88 cm
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 27 – 04 – 2009.
HB : 11 gr %
Albumin urine : (–) negatif
Reduksi urine : (–) negatif
6. Kesimpulan
Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.

3.2. IDENTIFIKASI DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
DS : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan pertamanya dengan usia kehamilan 7 bulan dan ibu merasa sesak pada perut bagian atas.

DO : Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Postur tubuh : Lordosis
TTV : T : 110/70 mmHg
N : 86 x/menit
S : 36,5 oC
RR : 20x/menit
Hamil ke : 1
HPHT : 01 – 10 – 2008
HPL : 08 – 07 – 2009
UK : 26 minggu lebih 4 hari
Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU 1 jari di atas pusat (24 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (24 – 13) x 155 = 1705 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 24/3,5 = 6,8 Bulan
Auskultasi Abdomen :
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 11) = 140 x/menit, punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
Pemeriksaan Panggul Luar:
Distansia spinarum : 24 cm
Distansia cristarum : 29 cm
Conjugata eksterna : 19 cm
Lingkar panggul : 88 cm
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 27 – 04 – 2009.
HB : 11 gr %
Albumin urine : (–) negatif
Reduksi urine : (–) negatif

3.3. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Persalinan letak sungsang

3.4. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

3.5. INTERVENSI
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
Tujuan jangka pendek : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x45 menit diharapkan ibu dapat mengerti tentang kondisinya dan memahami tentang kehamilannya.
Kriteria hasil : 1) Ibu dalam keadaan sehat
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : Composmentis
2) Ibu memahami keadaan yang dialami sekarang
3) Ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
4) Ibu dapat mengulang kembali penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Tujuan jangka panjang : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 x 20 hari diharapkan ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan kehamilan dalam keadaan baik.
Kriteria hasil : 1) Ibu dalam keadaan sehat
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV normal
TD : 100/70 – 130/90 mmHg
N : 76 – 92 x/menit
S : 36,5 – 37,5 C
RR : 16 – 24 x/menit
2) Bayi dalam keadaan bayi sehat
a) DJJ : 120- 160 x/menit
b) Terjadi penambahan taksiran berat janin
(TBJ)
c) Terasa gerakan janin
3) Posisi bayi kembali normal (tidak sungsang).
Intervensi
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
Rasional : Dengan menjelaskan hasil pemeriksaan diharapkan ibu dapat memahami kondisi kesehatan dan kehamilannya sekarang.
2. Ajarkan dan jelaskan pada ibu tentang cara melakukan posisi sujud (genu pectoral).
Rasional : Dengan posisi sujud dapat memanfaatkan gaya gravitasi untuk merubah posisi bayi.
3. Jelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan TM II.
Rasional : Dengan menjelaskan tentang tanda bahaya kehamilan TM II dapat mendeteksi dini adanya komplikasi.
4. Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat
Rasional : Dengan bekerja tidak terlalu berat diharapkan ibu tidak terlalu capek sehingga keadaan ibu dalam keadaan baik.
5. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
Rasional : Dengan istirahat cukup dapat menjaga kondisi ibu dan merelaksasi otot- otot tubuh.
6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
Rasional : Dengan mengkonsumsi makanan gizi seimbang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin, untuk persiapan tenaga dalam persalinan, dan memperlancar produksi ASI selama masa nifas.
7. Ajarkan pada ibu tentang cara melakukan senam hamil usia kehamilan
26 – 28 minggu.
Rasional : Dengan melakukan senam hamil dapat melatih otot-otot panggul sehingga dapat memperlancar proses persalinan.
8. Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.
Rasional : Tablet Fe mengndung zat basi sehingga dapat mencegah terjadinya anemia.
9. Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan kontrol 1 bulan lagi atau bila ada keluhan.
Rasional : Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin dapat mendeteksi adanya komplikasi.



3.6. IMPLEMENTASI
Tanggal : 05 April 2009 Jam : 17.00 WIB
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
1. Jam 17.00 WIB
Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan, yaitu :
TTV : T : 110/70 mmHg
N : 86 x/menit
S : 36,5 oC
RR : 20x/menit
Pemeriksaan Abdomen
Leopold I : TFU 1 jari di atas pusat (24 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (24 – 13) x 155 = 1705 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 24/3,5 = 6,8 Bulan
2. Jam 17.04 WIB
Mengajarkan dan menjelaskan pada ibu tentang cara melakukan posisi sujud (genu pectoral).
contoh posisi genu pectoral




3. Jam 17.09 WIB
Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan TM II.
Yaitu: perdarahan pervaginam, pusing berlebihan, bengkak pada tangan, kaki, wajah, nyeri hebat pada perut.
4. Jam 17.13 WIB
Menganjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
Seperti: mencuci, menyapu yang berat, mengangkat benda- benda yang berat.
5. Jam 17.17 WIB
Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup, yaitu : istirahat 8-10 jam/hari.
6. Jam 17.21 WIB
Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
a. Contoh menu seimbang: Nasi 1 piring, tempe 2 kotak korek api, daging 1 potong, sayur ½ gelas, buah
b. Minum: 7-8 gelas/ hari air putih, susu.
7. Jam 17.25 WIB
Mengajarkan pada ibu tentang cara melakukan senam hamil.
a. Pernafasan Perut
1) Berbaring terlentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm.
2) Tarik nafas dari hidung dengan mulut tertutup, perut mengembang, kemudian keluarkan nafas dari mulut.










b. Pernafasan Dada
1) Tidur terlentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm
2) Tarik nafas dari mulut dan keluarkan melalui mulut.
Kegunaan: Mengurangi rasa sakit saat persalinan.

c. Latihan Otot Pinggul
1) Tidur terlentang, kedua lutut dibengkokkan.
2) Letakkan kedua tangan di samping badan, tundukkan kepala dan kerutkan pantat kedalam hingga terangkat dari kasur.
3) Kempeskan perut hingga punggung menekan kasur. Rasakan tonjolan tulang panggul bergerak kebelakang.
4) Lemaskan kembali dan rasakan tonjolan tulang bergerak kembali kedepan. Ulangi gerakan ini 15 – 30 kali sehari.
Kegunaan : Mengurangi dan mencegah pegal-pegal, sakit pinggang dan punggung.







d. Latihan Untuk Sungsang
1) Ambil posisi merangkak, kedua lengan sejajar bahu, kedua lutut sejajar panggul dan agak diregangkan.
2) Kepala di antara kedua tangan, tolehkan ke kanan atau ke kiri.
3) Letakkan siku di atas kasur, geser siku sejauh mungkin ke kiri dan ke kanan hingga dada menyentuh kasur. Lakukan sehari 2 kali selama 15 – 20 menit/ kali.
Kegunaan : Memperbaiki posisi janin agar bagian kepala di bawah.

8. Jam 17.29 WIB
Menganjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.
a. Menganjurkan ibu untuk minum tablet Fe 1 x /hari, anjurkan ibu untuk minum sebelum tidur
b. Jangan menggunakan teh atau susu sebaiknya minum tablet Fe di ikuti dengan Vitamin C (Suplemen, buah, juice) untuk mempermudah penyerapan.
9. Jam 17.35 WIB
Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan kontrol 1 bulan lagi.

3.7. EVALUASI
Evaluasi jangka pendek
Tanggal : 05 April 2009 Jam : 17.45 WIB
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
S : Ibu mengatakan mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan.
O : 1) Ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
2) Ibu dapat menjelaskan kembali penjelasan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan :
a) Tentang minum tablet Fe
b) Gizi ibu hamil
A : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan dirumah.
2) Anjurkan ibu untuk melakukan posisi sujud (Genu Pectoral)
4) Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
5) Anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
6) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
8) Anjurkan ibu untuk melakukan senam hamil.
9) Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x /hari.


Evaluasi jangka panjang 1
Tanggal : 12 April 2009 Jam : 17.00 WIB
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
S : Ibu mengatakan dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan
O : Keadaan umum : Baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x /menit
Suhu : 36,5 oC
RR : 20 x /menit
Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU 2 jari di atas pusat (25 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (25 – 13) x 155 = 1860 gr
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 25/3,5 = 7,1 Bulan
Auskultasi Abdomen :
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 11) = 140 x/menit, punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
A : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan dirumah.
2) Anjurkan ibu untuk melakukan posisi sujud (Genu Pectoral)
4) Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
5) Anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
6) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
8) Anjurkan ibu untuk melakukan senam hamil.
9) Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.

Evaluasi Jangka Panjang 2 :
Tanggal : 26 April 2009 Jam : 17.00 WIB
Diagnosa : Ny. “H” GIP00000 UK 28 – 30 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
S : Ibu mengatakan dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan
O : Keadaan umum : Baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x /menit
Suhu : 36,5 oC
RR : 20 x /menit
Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU 4 jari di atas pusat (27 cm), pada fundus teraba lunak, kurang bundar dan kurang melenting (bokong).
TBJ : (27 – 13) x 155 = 2170 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba keras, bundar, melenting (kepala), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 27/3,5 = 7,7 Bulan
Auskultasi Abdomen :
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 12) = 144 x/menit, punctum maksimum perut ibu sebelah kiri di bawah pusat.
DR. Farida Chasidijah, SpOG. Tanggal 25/04/2009








A : Ny. “H” GIP00000 UK 28 – 30 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak kepala, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai.
P : Intervensi dihentikan.
Berikan HE :
1) Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
2) Anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
3) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
4) Anjurkan ibu untuk melakukan senam hamil.
5) Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.
6) Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilan secara rutin

















CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal : 08 April 2009 Jam : 17.00 WIB
S : Ibu mengatakan dalam keadaan sehat dan merasa sedikit pusing.
O : 1) Ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
2) Ibu melakukan posisi sujud setiap habis sholat
3) Ibu istirahat cukup (8 – 10 jam)
4) Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
Tensi : 100/60 mmHg
Nadi : 88 x /menit
Suhu : 36,6 oC
RR : 20 x /menit
Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU 2 jari di atas pusat (25 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (25 – 13) x 155 = 1860 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 25/3,5 = 7,1 Bulan
Auskultasi Abdomen :
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 12) = 144 x/menit, punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
DR. Farida Chasidijah, SpOG. Tanggal 07/04/2009








A : Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan no. 2, 4, 6, 7, 8, 9.
2) Anjurkan ibu untuk melakukan posisi sujud (Genu Pectoral)
4) Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
6) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
7) Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara.
8) Anjurkan ibu untuk melakukan senam hamil.
9) Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.

Tanggal : 16 April 2009 Jam : 17.00 WIB
S : Ibu mengatakan dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan.
O : 1) Ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
2) Ibu melakukan posisi sujud setiap habis sholat
3) Ibu dapat melakukan senam hamil
4) Ibu istirahat cukup (8 – 10 jam)
5) Pemeriksaan Umum :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x /menit
Suhu : 36,6 oC
RR : 24 x /menit

Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU 3 jari di atas pusat (26 cm), pada fundus teraba keras, bundar dan melenting (kepala).
TBJ : (26 – 13) x 155 = 2015 gram
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar, seperti papan, punggung kiri (PUKI), sedangkan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin.
Leopold III : Bagian terendah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong), belum masuk PAP.
Leopold IV : –
Mc. Donald : 26/3,5 = 7,4 Bulan

Auskultasi Abdomen :
Abdomen : DJJ + (12 – 12 – 11) = 140 x/menit, punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
A : Ny. “H” GIP00000 UK 28 – 30 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan no. 2, 4, 6, 7, 8.
2) Anjurkan ibu untuk melakukan posisi sujud (Genu Pectoral)
4) Anjurkan ibu untuk mengurangi kerja yang berat.
6) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang.
7) Anjurkan ibu untuk melakukan senam hamil.
8) Anjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin 1x/hari.

















BAB IV
PEMBAHASAN

Pembahasan merupakan bagian dari study kasus yang berisi uraian secara mendalam tentang perbedaan/ kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus yang terjadi selama penulis melaksanakan asuhan kebidaan pada pasien Ny. “H” GIP00000 umur kehamilan 26 – 28 minggu dengan kelainan letak sungsang. Untuk memudahkan dalam tinjauan ini penulis mengelompokkan permasalahan sesuai dengan langkah-langkah manajemen Hellen Varney.
4.1. PENGKAJIAN
4.1.1. Data Subyektif
Pada tinjauan kasus kehamilan dengan letak sungsang, penulis menemukan bahwa ibu merasakan sesak pada perut bagian atas. Dalam tinjauan pustaka dikatakan bahwa pada kehamilan dengan letak sungsang seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada kehamilan biasanya, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah (Wiknjosastro, 2005:609). Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori.

4.1.2. Data Obyektif
Menurut tinjauan teori, pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa pada kehamilan dengan letak sungsang adalah dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan fisik yaitu pada palpasi abdomen didapat data bahwa pada perut bagian atas teraba keras, bundar, dan melenting (kepala). Sedangkan perut bagian bawah teraba lunak, kurang bundar, dan kurang melenting (bokong). Pada auskultasi abdomen Denyut Jantung Janin (DJJ) dapat didengar setinggi pusat. Apabila dengan pemeriksaan fisik belum dapat ditegakkan diagnosa, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dalam kasus ini dilakukan pemeriksaan USG untuk memperkuat diagnosa dan didapat data dari hasil USG adalah bayi dalam posisi letak sungsang. Dalam hal ini didapat kesamaan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori.

4.2. IDENTIFIKASI, DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN
Pada tinjauan teori penulis menemukan 1 diagnosa yaitu diagnosa kehamilan dengan letak sungsang dengan tidak ditemukan adanya masalah. Sedangkan pada tinjauan kasus ditemukan 1 diagnosa yaitu Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intrauterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik dengan tidak ditemukan adanya masalah. Jadi tidak ditemukan adanya kesenjangan antara tinjaun teori dan tinjauan kasus.

4.3. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Pada tinjauan pustaka ditemukan masalah potensial pada kehamilan dengan letak sungsang adalah persalinan dengan letak sungsang, persalinan macet, asfiksia pada BBL, kematian ibu dan bayi (Wiknjosastro, 2005:613). Sedangkan pada tinjauan kasus penulis menemukan adanya antisipasi masalah potensial yaitu terjadinya persalinan letak sungsang. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.

4.4. IDETIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Pada tinjauan pustaka kebutuhan tindakan segera akan dilakukan apabila terjadi kegawatdaruratan seperti panggul sempit, adanya plasenta previa, bagian terendah (bokong) sudah masuk PAP, yaitu dengan melakukan persalinan SC dan melakukan kolaborasi dengan tim Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Wiknjosastro, 2005). Sedangkan pada kasus nyata tidak dilakukan identifikasi kebutuhan segera karena tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan yang membutuhkan dilakukan tindakan segera. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.

4.5. INTERVENSI
Penulis telah merencanakan asuhan yang akan dilaksanakan sesuai dengan diagnosa, masalah, dan kebutuhan pada kehamilan dengan letak sungsang. Pada intervensi penulis merencanakan tindakan yaitu: anjurkan ibu untuk melakukan posisi genu pectoral (sujud)”. Sedangkan pada tinjuan teori intervensi yang dilakukan pada kehamilan sungsang adalah dengan melakukan versi luar. Alasan penulis tidak mencantumkan tindakan versi luar adalah karena banyak komplikasi yang mungkin akan muncul jika dilakukan tindakan versi luar. Selain itu tindakan versi luar tidak perlu dilakukan pada usia kehamilan sebelum 34 minggu karena bayi masih dapat memutar sendiri. Jadi dalam hal ini ditemukan kesenjangan antara tinjuan kasus dengan tinjauan teori.

4.6. IMPLEMENTASI
Karena hubungan yang terbina baik antara petugas kesehatan dengan klien, sehingga klien lebih kooperatif dalam pemberian asuhan kebidanan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan.

4.7. EVALUASI
Pada tahap evaluasi penulis melakukan berdasarkan evaluasi yang ditetapkan dalam bentuk SOAP. Evaluasi pada Ny. “H” GI P00000, dengan letak sungsang yaitu evaluasi jangka pendek dan evaluasi jangka panjang yang diuraikan sebagai berikut.
Evaluasi jangka pendek tanggal 05 April 2009 jam 17.45 WIB didapatkan diagnosa Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intrauterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai sebagian. Pada evaluasi ini klien mengerti dan memahami penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan tentang kondisi kehamilannya. Dan ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, serta klien dapat mengulang penjelasan yang diberikan oleh petugas tentang gizi ibu hamil, perawatan payudara, dan cara minum tablet Fe. Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.
Pada evaluasi jangka panjang pada tanggal 26 April 2009 jam 17.00 WIB didapatkan diagnosa Ny. “H” GIP00000 UK 28 – 30 minggu, tunggal, hidup, intrauterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik, tujuan tercapai. Didapatkan hasil yaitu posisi janin sudah berubah ke posisi kepala. Intervensi dihentikan dengan memberikan Health Education (HE) pada klien. Dalam hal ini tidak ditemukan kesejangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.











BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Pada pengkajian asuhan kebidanan pada Ny. “H” GIP00000 umur kehamilan 26 – 28 minggu dengan letak sungsang dilakukan anamnese klien ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan pertamanya dengan usia kehamilan 7 bulan dan ibu merasa sesak pada perut bagian atas. HPHT 01-10-2008, usia kehamilan 26 minggu lebih 4 hari. Pada pemeriksaan palpasi abdomen Leopold I: TFU 1 jari di atas pusat (24 cm), fundus teraba keras, bundar, melenting (kepala). Leopold II: perut ibu sebelah kiri teraba keras, datar seperti papan, punggung (PUKI), dan perut ibu sebelah kanan teraba bagian kecil janin. Leopold III: bagian terbawah janin teraba lunak, kurang bundar, kurang melenting (bokong) dan belum masuk PAP. Leopold IV: tidak dilakukan. McDonald 24/3,5 cm = 6,8 bulan, TBJ 1.705 gram, DJJ 12-12-11 (140 x/menit) terdengar jelas dan teratur di punctum maksimum perut ibu sebelah kiri sejajar pusat.
Pada identifikasi diagnosa masalah didapatkan diagnosa pada Ny. “H” GIP00000 UK 26 – 28 minggu, tunggal, hidup, intra uterin, letak bokong, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
Pada antisipasi masalah potensial ditemukan masalah potensial yaitu persalinan dengan letak sungsang.
Pada identifikasi kebutuhan segera tidak ditemukan kebutuhan segera karena tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan yang membutuhkan tindakan segera.
Intervensi jangka pendek yang dilakukan dengan prioritas asuhan kebidanan selama 1 x 45 menit dengan kriteria hasil Ibu dalam keadaan sehat (keadaan umum baik, kesadaran composmentis), ibu memahami keadaan yang dialami sekarang, ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, ibu dapat mengulang kembali penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Pada intervensi jangka panjang dengan perioritas asuhan kebidanan selama 1 x 20 hari dengan kriteria hasil ibu dalam keadaan sehat (keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TTV dalam batas normal), bayi dalam keadaan sehat (DJJ 120 – 160 x/menit, terjadi penambahan TBJ, terasa gerakan janin), posisi bayi kembali normal (tidak sungsang).
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana asuhan yaitu pada tanggal 05 April 2009, jam 17.00 WIB – 17.45 WIB.
Evaluasi jangka pendek dilakukan pada tanggal 05 April 2009 jam 17.45 WIB, didapatkan ibu dapat mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan, intervensi dilanjutkan dengan menganjurkan ibu untuk melaksanakan intervensi yang masih perlu dilakukan. Dilakukan pemantauan kondisi ibu dan janin melalui catatan perkembangan. Pada evaluasi jangka panjang yaitu tanggal 26 April 2009 jam 17.00 WIB didapatkan posisi bayi adalah posisi kepala dan intervensi dihentikan dengan memberikan Health Education (HE).

5.2. SARAN
5.2.1. Bagi Institusi
Diharapkan institusi menambah referensi kepustakaan yang terbaru dan memberikan fasilitas yang lebih canggih seperti internet sehingga mahasiswa dapat mendapatkan informasi baru yang lebih cepat.

5.2.2. Bagi Lahan Praktek
Diharapkan petugas lahan praktek dapat membimbing mahasiswa sehingga mahasiswa mendapat pengalaman yang nyata dalam melakukan Asuhan Kebidanan terutama pada ibu hamil dengan letak sungsang.

5.2.3. Bagi Mahasiswa
Dengan mendapatkan pengalaman diharapkan dapat menerapkan apa yang telah didapat dalam perkuliahan dengan kasus nyata dalam melakukan asuhan kebidanan dengan menggunakan manajemen Hellen Varney.

5.2.4. Bagi Klien
Diharapkan klien lebih kooperatif dalam asuhan kebidanan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan sehingga mencapai hasil akhir yang optimal tanpa adanya komplikasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar